Sabtu, 14 April 2012

SUMBER BELAJAR MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’AN

A. Pendahuluan.

Di masa sekarang ini kita temukan banyak orang yang mencoba menafsirkan beberapa ayat Al-quran dalam sorotan pengetahuan ilmiah modern,. Tujuan utamanya adalah untuk menunjukan mukzizat Al-Quran dalam lapangan keilmuan untuk menyakinkan orang-orang non muslim akan keagungan dan keunikan Al-Quran, dan untuk menjadikan umat islam bangga memiliki kitab agung seperti itu.
Tetapi pandangan yang menganggap Al-Quran sebagai sebuah sumber seluruh pengetahuan ini bukanlah sesuatu yang baru, sebab kita mendapati banyak ulama terdahulu pun berpandangan demikian. Di antara ulamanya ialah Imam Al-Ghazali . Dalam Kitabnya Ihya Ulum Al-Din, beliau mengutip kata-kata Ibnu Mas’ud: Jika seseorang ingin memiliki pengetahuan masa lampau dan pengetahuan modern, selayaknya dia merenungkan Al-Quran, selanjutnya beliau menambahkan: “Ringkasnya, seluruh ilmu tercakup di dalam karya-karya dan sifat-sifat Allah, dan Al-Quran adalah penjelasan esensi, sifat-sifat dan perbuatan-Nya. Tidak ada batasan terhadap ilmu-ilmu ini, dan didalam Al-Quran terdapat indikasi pertemuannya (Al-Quran dan ilmu-ilmu).
Al-Quran surat Al-Alak ayat 1-5 menjelaskan kepada kita untuk membaca dan merenungkan bahkan membawa kepada kita untuk dituntut mampu berinteraksi dalam ilmu, dalam artian adalah belajar, dengan kata lain bahwa Al-Quran memerintahkan kepada kita untuk melakukan pendidikan, dan didalamnya terdapat cakupan-cakupan sumber ilmu dan penjelasan-penjelasannya.
Di sini penulis mencoba untuk melakukan kajian tentang sumber belajar menurut Persfektif Al-Quran, dengan batasan – batasan di antaranya adalah Pengertian, ayat-ayat Al-Quran yang menjelasakan tentang sumber belajar serta Tujuan Pendidikan (belajar).
B. Pembahasan.
1. Pengertian Sumber Belajar.
a. Sumber Belajar menurut Kamus Bahasa Indonesia terdiri dari kata “Sumber” dan “Belajar” artinya adalah Sumber berarti Tempat Keluar, asal, sedangkan Belajar adalah Orang yang dapat dijadikan tempat bertanya tentang berbagai pengetahuan, jadi Sumber Belajar adalah “Asal atau tempat keluarnya tentang berbagai pengetahuan yang dapat dijadikan tempat bertanya”.
b. Konsep Islam tentang Belajar,
Salah satu ciri yang membedakan antara Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah mencari Ilmu (belajar), Al-Quran dan As-Sunah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan pada derajat yang tinggi, di dalam Al-Quran, kata al-ilm’ dan kata-kata jadiannya di gunakan lebih dari 780 kali. Beberapa ayat pertama, yang diwahyukan kepada Rasullah Saw, menyebutkan pentingnya membaca, menulis (pena), dan ajaran untuk manusia. Firman Allah Surat Al-Alaq ayat 1-5.
اِقًرَا باسم ربك الدي خلق * خلق الانسان من علق * اقرا وربك الا كرم* الدي علم بالقلم * علم الانسان مالم يعلم *.


Artinya, Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan tuhanmulah yang pemurah, yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Al-Alaq : 1-5).

Dalam surat tersebut dikandung pengertian bahwa dengan ilmu pengetahuanlah umat manusia akan memperoleh kemajuan dan peningkatan kesejahteraan hidup dan kehidupan lahir batin. Allah Maha Pendidik, telah mengajarkan kepada manusia apa-apa yang belum mereka ketahui.
Didalam hal penciptaan Adam, Al-Quran menyatakan bahwa para malaikat pun disuruh sujud terhadap Adam setelah beliau diajari nama-nama, sebagai mana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 31-32.
                         •    
Artinya, Dan dia mengajarkan kepada Adam (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat dan berfirman:”Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang yang benar!” Mereka menjawab, “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selai apa yang telah Engkau ajarkan kepada Kami; Engkaulah yang maha mengetahui lagi maha bijaksana. (QS.2: 31-32).

Al-Quran mengatakan tidak sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الٌدِيْنَ يَعْلَمٌوْنَ وَالٌدِيْنَ لَا يَعْلَمٌوْنَ.
Artinya: “ Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”.(QS.39:9).


وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَالِلنًاسِ وَمَايَعْقِلُهَا اِلٌاَالْعَالَمُوْنَ.
Artinya: “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada yang memehaminya, kecuali orang-orang yang berilmu”. (QS.29:43).

Kata “Ilm” (pengetahuan[knowledge]atau sains [science]), seperti juga kata “eksistensi” (wujud) mempunyai rangkaian makna yang luas yang berbeda dari sudut pandang kekuatan atau kelemahan, kesempurnaan atau kecacatan, makna generik kata ini mencakup keseluruhan spectrum arti yang telah digunakan di dalam sunah Nabi, arti luas kata “Ilm” ini biasa digunakan dengan makna-maknanya yang berpariasi. Sehubungan dengan itu, makna Hadis “ Mencari Ilmu itu Wajib bagi setiap Muslim” ini untuk menetapkan bahwa pada tingkat ilmu apa pun seseorang harus berjuang untuk mengembangkannya lebih jauh. Nabi bermaksud bahwa mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim; bagi para ilmuwan, juga bagi mereka yang bodoh, bagi pemula juga bagi para sarjana terdidik. Apapun tingkat ilmu yang dapat dicapainya, ia seperti anak kecil yang berangkat dewasa; artinya, ia harus mempelajari (belajar) hal-hal yang sebelumnya tak wajib baginya.
c. Sumber Belajar menurut Al-Quran.
Dalam hal pentingnya mencari ilmu (belajar) yang sesuai dengan study-study agama tidak ada perbedaan pendapat. Tentunya kita akan menghindari dari terlalu banyak mempermasalahkan persoalan ini, sebaliknya mempelajari ilmu-ilmu lain dalam perspektif Al-Quran,dalam hal ini ada beberapa alasan yang dikemukakan secara langsung .
1. Jika pengetahuan dari suatu ilmu merupakan persyaratan mencapai tujuan-tujuan Islam sebagaimana di pandang oleh syariah, maka mencarinya (menuntut) merupakan sebuah kewajiban, karena ia merupakan kondisi awal untuk memenuhi kewajiban syariah.
2. Masyarakat yang dikehendaki oleh Al-Quran adalah masyarakat yang agung dan mulia bukan masyarakat yang takluk dan bergantung kepada orang-orang kafir, seperti Firman Allah dalam QS.An-Nisa:141.
وَلَنْ يَجْعَلَ للهُ لِلْكَفِرِ يْنَ عَلَى الْمُؤْ مِنِيْنَ سَبِيْلَا.
Artinya. “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman”, (QS.4:141).

Agar dapat merealisasikan tujuan yang dibahas oleh Al-Quran ini, masyarakat Islam benar-benar harus memiliki kemerdekaan cultural, politik, dan ekonomi.
3. Al-Quran menyuruh manusia mempelajari system dan skema penciptaan, keajaiban-keajaiban alam, sebab-sebab dan akibat-akibat seluruh benda-benda yang ada, kondisi-kondisi organisme hidup; pendeknya, seluruh tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang ada di alam eksternal dan kedalaman-kedalaman batin jiwa manusia. Al-Quran menyuruh berpikir dan merenungkan seluruh aspek-aspek penciptaan dan menyuruh manusia menggunakan nalar dan fakultas-fakultas lainnya untuk menemukan rahasia alam. Sebagai mana di tuliskan dalam beberapa ayat AL-Quran berikut :

Al-Quran Surat Al-Qaf ayat 6-8.
       •     
           
     
Artinya. “ Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atasnya, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun. Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah di pandang mata. Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali mengingat Allah.” (QS.50:6-8).

Al-Quran Surat Al-Ankabut
            •   •      

Artinya. “Katakanlah : Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi, Sesunggunya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS.29:20).

Al-Quran Surat Ali Imron ayat 190-191.
       •    
                    • 
Artinya. “ Sesunggunya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan terbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuham kami, tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”(QS.3:190-191).
Al-Quran Surat Al-Ankabut ayat 49
               
Artinya. “Sebenarnya, Al-Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu; Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-oarang yang zalim,”(QS.29:49).
4. Alasan lain untuk mempelajari fenomena-fenomena alam dan skema penciptaan adalah bahwa ilmu tentang hukum-hukum alam dan karakteristik-karakteristik, benda-benda serta organisme-organisme dapat berguna untuk perbaikan kondisi hidup manusia. Masalah ini banyak ditekankan oleh ayat Al-Quran. Seperti ayat-ayat berikut:
Al-Quran surat Luqman ayat 20
  •    •             ••            

Artinya.”Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk tanpa kitab yang memberi penerangan.”(QS.31:20).

Al-Quran Surat Lukman ayat 14
     •            
Artinya. “ dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah; dan menyapihnya dalam dua tahun; Besyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”(QS.31:14).

Dari uraian ayat-ayat Al-Quran dapat ditarik kesimpulan bahwa yang menjadi sumber belajar (ilmu) menurut perspektif A-Quran adalah :
a. Al-Quran.
Al-Quran sebagai sumber belajar (ilmu) hal ini di tegaskan dalam ayat-ayatnya diantaranya :
Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 2
         
Artinya : “ Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya;petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”(QS.2:2).

Umat Islam di anugrahkan Allah suatu kitab suci Al-Quran yang lengkap dengan segala petunjuk dan meliputi seluruh aspek kehidupan dan bersifat universal. Untuk itu sudah barang tentu dasar (sumber) pedidikan mereka adalah kepada falsafah hidup yang berdasarkan Al-Quran. Nabi Muhammad Saw sebagai pendidik pertama. Kedudukan Al-Quran sebagai sumber pokok pendidikan Islam dapat dipahami dari firman Allah Swt.
Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 64.
               
Artinya.”Dan kami tidak menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) ini melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka perselisihan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”(QS.16:64).

Dalam kaitan ini, Mahmud Syultut menulis bahwa Al-Quran yang diturunkan lewat ruh al-amin kedalam hati Muhammad saw, agar ia memberi bimbingan kepada manusia tentang apa yang mereka ambil darinya untuk diri mereka, untuk mengatur kehidupan mereka, sehingga masyarakat berjalan sesuai dengan petunjuk yang mengantarkan kepada kebahagiaan mereka di dunia berupa kemuliaan dan kekuasaan, dan konsisten dalam kebenaran. Sementara di akhirat dengan mengikuti petunjuk Al-Quran, mereka akan mendapat rahmat yang kekal dan nikmat yang sejati sehingga sempurnalah kebahagian manusia di dunia dan akhirat.
b. Kelurga.
Keluarga sebagai sumber belajar hal ini di tegaskan dalam Al-Quran surat Luqman ayat 13.
               
Artinya.”Dan ingatlah ketika luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia member pelajaran kepadanya;”Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah)adalah benar-benar kezaliman yang besar.”(QS.31:13).

c. Alam Semesta.
Alam semesta merupakan sumber belajar (Ilmu). Hal ini telah banyak di singgung dalam ayat-ayat Al-Quran pada pembahasan di atas.

d. Lingkungan Masyarakat atau Sosial.
Masyarakat sebagai sumber belajar hal ini ditegaskan dalam AL-Quran surat Al-Hasyr ayat 9. Sbb:
                                
Artinya.”Dan orang-orang yang telah menempati kota madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa di berikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya; mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(QS.59:9).

Di dalam ayat ini terdapat gambaran dimana hidup bermasyarakat yang di gambarkan oleh kaum Ansar terhadap kaum Muhajirin, merupakan pelajaran yang dapat dipetik dalam pengembangan Pendidikan ilmu pengetahuan.
c. Kesimpulan.
Pertumbuhan dan perkembangan hidup umat manusia dari generasi kegenerasi tidak terlepas dari proses pembentukan dan pembinaan pribadi yakni melalui proses belajar, yang kemudian saling memberikan pengaruhnya dalam kehidupan bersama.Pendidikan (belajra) itu sendiri pada hakekatnya adalah proses pewarisan nilai-nilai ilmu yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang lebih baik atau sempurna dari keadaan sebelumnya.
Dalam hal Proses Belajar tidak terlepas dari sumber-sumber belajar itu sendiri, yakni suatu sumber yang sudah barang tentu merupakan rujukan atau dasar dalam proses pendidikan. Sumber tersebut dianntaranya menurut Al-Quran adalah Al-Quran, Keluarga, Alam, Lingkungan Masyarakat/Sosial dan yang lainnya.
Didalam Al-Quran sendiri Allah Swt, telah banyak mengemukakan tentang sumber-sumber Pendidikan (belajar), diantara dalil-dalil tersebut yang menjadi rujukan sumber belajar menurut perspektif Al-Quran adalah yang telah di sebutkan dalam pembahasan diatas.








Daftar Pustaka
Ahmad Syukri Saleh. Methodologi Tafsir Al-Quran Kontemporer dalam pandangan Fazlur Rahman.Sultan Thaha Perss, Jambi:2007
Darwyan Syah, Filsafat Pendidikan Islam. Haja Mandiri, Jakarta:2011.
Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemah,Jakarta 2010.
Mahdi Ghulsyani, Fisafat Sains menurut Al-Quran. Mizan,Bandung:2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar