Sabtu, 14 April 2012

PROPOSAL PENELITIAN PERAN PENTING KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN KINERJA GURU TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN AL-QUR`AN HADITS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI CIRUAS

A. Latar Belakang Masalah
Peningkatan mutu pendidkan merupakan sasaran pembangunan di bidang pendidikan nasional dan merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia secara kaffah (menyeluruh). Pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan ”Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan” tertanggal 2 Mei 2002, dan lebih terfokus lagi, setelah diamanatkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepa Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Peningkatan kualitas pendidikan bukanlah tugas yang ringan karena tidak hanya berkaitan dengan permasalahan tekhnis, tetapi mencakup berbagai persoalan yang sangat rumit dan kompleks, baik yang menyangkut perencanaan, pendanaan, maupun efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan siostem sekolah. peningkatan kulaitas pendidikan juga menuntut manajemen pendidikan yang lebih baik. Sayangnya, selama ini aspek manajemen pendidikan pada berbagai tingkat satuan pendidikan belum mendapat perhatian yang serius sehingga seluruh komponen sistem pendidikan kurang berfungsi dengan baik. Lemahnya manajemen pendidikan juga memberikan dampak terhadap efisiensi internal pendidikan yang terlihat dari jumlah peserta didik yang menguilang kelas dan putus sekolah.
Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatan kulaitas pendidikan. Hasil penelitian Balitbangdikbud (1991) menunjukan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Manajemen sekolah secara langsung akan mempengaruhi dan menentukan efektif tidaknya kurikulum, berbagai peralatan belajar, waktu mengajar, dan proses pembelajaran. Dengan demikian, upaya peningkatan kualitas pendidikan harus dimulai dengan pembenahan manajemen sekolah, di samping peningkatan kualitas guru dan pengembangan sumber belajar.
Sekolah adalah lembaga yang bersifat kompleks dan unik. Bersifat kompleks karena sekolah sebagai organisasi di dalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menentukan. Sedang sifat unik, menunjukan bahwa sekolah sebagai organisasi memiliki ciri-ciri yang menempatkan sekolah memiliki karakter tersendiri, di mana terjadi proses belajar mengajar, tempat terselengaranya pembudayaan kehidupan umat manusia.
Pendidikan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap manusia, karena tanpa pendidikan manusia tidak akan bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Dengan pendidikan manusia bisa berubah dari yang tidak tahu menjadi tahu kemudian dari yang tidak bisa menjadi bisa, itulah sebabnya pendidikan diperlukan sekali. Didalam perkembangannya istilah pendidikan ini berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Pendidikan berarti “usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupannya yang lebih tinggi dalam arti mental”.
Pendidikan sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan . Bahkan tidak kalah pentingnya peningkatan sumber daya manusia merupakan salah satu sasaran pembangunan jangka panjang yang mengiringi laju pertumbuhan ekonomi. Salah satu pilar dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia adalah bidang pendidikan. Pendidikan sebagai upaya pembentukan generasi muda yang tangguh dan mumpuni, dilaksanakan dalam keluarga, sekolah, maupun dalam masyarakat. Peran pendidikan dewasa ini sangat dominan, di Negara - negara yang sedang berkembang dan membangun seperti Negara Indonesia. Pembangunan yang dilakukan di Indonesia dilakukan baik dalam bidang fisik maupun mental spiritual membutuhkan sumber daya manusia yang terdidik. Oleh karena itu ditempuh berbagai upaya untuk memantapkan pembentukan kepribadian bangsa termasuk generasi mudanya melalui pendidikan.
Pendidikan disamping mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus akan mengembangkan kualitas sumber daya manusia khususnya generasi muda sebagai komponen bangsa secara optimal. Proses pendidikan berarti di dalamnya menyangkut kegiatan belajar mengajar dengan segala aspek maupun faktor yang mempengaruhinya. Pada hakikatnya, untuk menunjang tercapainya tujuan pengajaran, prestasi belajar merupakan pencerminan kegiatan belajar mengajar yang melibatkan siswa, guru, materi pelajaran, metode pengajaran, sarana atau fasilitas belajar, kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan didukung oleh lingkungan yang mendukung kegiatan belajar mengajar. Disamping itu peran kepala Sekolah juga sangat dominan untuk mengembangkan manajemen pembelajaran.
Peningkatan kulaitas pendidikan bukanlah tugas yang ringan karena tidak hanya berkaitan dengan permasalahan teknis tetapi mencakup berbagai persoalan yang sangat rumit dan kompleks, baik yang menyangkut perencanaan, pendanaan, maupun efesiensi dan efektivitas penyelenggaraan sistem sekolah. Peningkatan kualitas pendidikan juga menuntut manajemen pendidkan yang lebih baik. Sayangnya, selama ini aspek manajemen pendidikan pada berbagai tingkat dan satuan pendidikan pada berbagai tingkat dan satuan pendidikan belum mendapat perhatian yang serius sehingga seluruh komponen system pendidikan kurang berfungsi dengan baik. Lemahnya manajemen pendidikan juga memberikan dampak terhadap efesiensi internal pendidikan yang terlihat dari jumlah peserta didik yang mengulang kelas dan putus sekolah. Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hasil penelitian Balitbangdikbud (1991) menunjukan bahwa manajemen sekolah merupakan satu faktor yang mempengaruhi kulaitas pendidikan.
Di samping itu pula peran kepemimpinan di sekolah merupakan suatu hal yang sangat penting dalam manajemen di sekolah. Kepemimpinan berkaitan dengan masalah kepala sekolah dalam meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan para guru dalam situasi yang kondusif . Perilaku kepala sekolah harus dapat mendorong kinerja para guru dengan menujukkan rasa bersahabat, dekat, dan penuh pertimbangan terhadap para guru, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Perilaku instrumental merupakan tugas-tugas yang diorientasikan dan secara langsung diklarifikasi dalam peranan dan tugas-tugas para guru, sebagai individu dan sebagai kelompok. Perilaku pemimpin yang positif dapat mendorong kelompok dalam mengarahkan dan memotivasi individu untuk bekerja sama dalam kelompok dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi
Sesuai Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah . Guru profesional harus memiliki kualifikasi akademik minimum sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV), menguasai kompetensi (pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian), memiliki sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Guru merupakan suatu profesi yang artinya suatu jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Jenis pekerjaan ini mestinya tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang kependidikan walaupun kenyataannya masih terdapat dilakukan orang di luar kependidikan.
Guru juga mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional tersebut dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Lebih lanjut Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru tersebut mendefinisikan bahwa profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Guru sebagai pendidik profesioanl mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau tauladan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru sehari-hari, apakah memang ada yang patut diteladani atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, dan bagaimana cara guru berpakaian dan berbicara serta cara bergaul baik dengan siswa, teman-temannya serta anggota masyarakat, sering menjadi perhatian masyarakat luas.
Keutamaan seorang pendidik (guru) disebabkan oleh tugas mulia yang diembannya. Tugas yang diemban oleh seorang guru sama dengan tugas seorang Rasul. Dari pandangan itu dipahami, bahwa tugas pendidik sebagai”warasat al-anbiya” yang pada hakikatnya mengemban misi rahmat li al-`alamin, yakni suatu misi yang mengajak manusia untuk tunduk dan patuh pada hukum-hukum Allah, guna memperoleh keselamatan dunia dan akhirat, kemudian misi ini dikembangkan oleh kepada pembentukan kepribadian yang berjiwa tauhid, kreatif, beramal saleh dan bermoral tinggi.
Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat. Keberhasilan pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya.
Dalam pengertian di atas mengajar menyampaikan pengetahuan kepada siswa atau murid, maka pengajaran dipandang sebagai upaya mempersiapkan siswa untuk hidup dimasa yang akan datang; pengajaran juga merupakan penyampaian pengetahuan dari guru kepada siswa, tujuan pengajaran adalah penguasaan pengetahuan oleh siswa; guru dianggap sebagai sumber utama belajar; murid diposisikan sebagai penerima pesan, informasi dan pengetahuan dan pengajaran hanya berlangsung di ruangan kelas.
Mengajar dipandang sebagai membimbing murid atau siswa adalah berkaitan dengan peran guru yang lebih kepada moderator dalam kegiatan belajar mengajar, dan yang dituntut aktif melakukan aktivitas belajar adalah siswa untuk melakukan kegiatan dan pengalaman belajar dan memperoleh kecakapan hidup dalam kegiatan pembelajaran dengan menggali dan mencari informasi sendiri, berdiskusi, mengunjungi sumber belajar selain guru dan sebagainya.

Dalam kegiatan belajar mengajar, siswa adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pengajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan pembelajaran siswa dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika siswa berusaha secara aktif untuk
mencapainya. Keaktifan siswa disini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya siswa tidak belajar, karena siswa tidak merasakan perubahan di dalam dirinya. Padahal belajar hakikatnya adalah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Walaupun pada kenyataannya tidak semua perubahan termasuk belajar. Misalnya perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya.
Dari pandangan diatas jelas sekali bahwa kegiatan belajar mengajar tidak berproses dalam kehampaan, tetapi dengan penuh makna. Di dalamnya terdapat sejumlah norma untuk ditanamkan kedalam ciri setiap pribadi siswa.
Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Gurulah yang menciptakannya guna membelajarkan siswa. Guru yang mengajar dan siswa yang belajar. Perpaduan dari kedua unsur manusiawi ini lahirlah interaksi edukatif dengan memanfaatkan bahan sebagai mediumnya.
Semua orang yakin bahwa guru memilki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan siswa untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Keyakinan ini muncul karena manusia adalah makhluk lemah, yang dalam perkembanganya senantiasa membutuhkan orang lain, sejak lahir bahkan pada saat meninggal. Semua itu menunjukan bahwa setiap orang membutuhkan orang lain dalam
perkembangannya, demikian halnya peserta didik ketika orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah pada saat itu juga ia menaruh harapan terhadap guru, agar anaknya dapat berkembang secara optimal.
Minat, bakat, kemampuan dan potensi-potensi yang dimiliki oleh siswa tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan siswa secara individual, karena antara satu siswa dengan yang lain memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Guru pula yang memberi dorongan agar siswa berani berbuat benar, dan membiasakan mereka untuk bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya. Gurulah sebagai kunci keberhasilan pembelajaran di sekolah, sehingga dituntut untuk memilki kesabaran, kreativitas dan profesionalisme.
Proses belajar seseorang tidak lepas dari motivasi orang yang bersangkutan. Oleh karena itu pada dasarnya motivasi belajar merupakan faktor yang sangat menentukan di dalam proses kegiatan belajar seseorang. Purwanto (1990: 60) menyatakan bahwa "motivasi adalah syarat mutlak untuk belajar". Motif merupakan segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak atau melakukan sesuatu.
Seorang siswa dapat belajar secara efisien jika ia memiliki motivasi untuk belajar. Motivasi itu timbul dari dalam dan dari luar. Apabila ditinjau dari segi kekuatan dan kemantapannya, maka motivasi yang timbul dari dalam diri seorang siswa akan lebih stabil dan mantap dibandingkan dengan motivasi karena pengaruh lingkungan (motivasi dari luar). Hal ini dikarenakan dengan berubahnya lingkungan otomatis mempengaruhi motivasi, sehingga motivasi belajar seseorang itu juga akan mengalami perubahan. Apabila lingkungan yang mempengaruhi siswa tersebut lenyap, maka dapat berakibat hilangnya motivasi belajar siswa yang bersangkutan. Oleh karena itu motivasi belajar yang timbul dari dalam dan dari luar harus berjalan secara balance dan saling melengkapi. Pada akhirnya melalui motivasi tersebut akan timbul semangat siswa untuk belajar dan memperoleh prestasi belajar yang optimal.
Demikian dengan belajar akan nampak terdapt perubahan-perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman kecuali perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh proses menjadi matangnya seseorang bersifat temporer. Perubahan timbul melalui tahapan antara satu dan lainnya yang bertalian secara beruntun dan fungsional.
Perubahan tersebut pada pokoknya berupa perubahan kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relatif sama, perubahan tersebut terjadi karena adanya usaha.
Menurut Bruner (1999) dalam proses pembelajaran mennempuh tiga tahap atau episiode yaitu :
1. Tahapan Informasi (tahapan penerimaan materi)
2. Tahapan transformasi (tahapan pengubahan materi)
3. Tahapan Evaluasi (tahapan penilaian materi)
Perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar beranjak dari taksonomi bloom meliputi domain-domain sebagai berikut :
1. Kognitif, meliputi perubahan-perubahan dalam segi penguasaan, pengetahuan dan perkembangan keterampilan/kemampuan yang diperlukan untuk menggunakan pengetahuan tersebut.
2. Afektif, meliputi perubahan-perubahan dari segi sikap mental, perasaan dan kesadaran.
3. Psikomotor, meliputi perubahan perubahan dalam segi bentuk-bentuk tindakan motorik.
Perubahan pada siswa itu akan terjdi apabila terjadi proses. Belajar menurut Skinner yang dikutip oleh Fatorrohman, mengartikan belajar sebagai suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif, sedangkan menurut Morgon dalam bukunya yang berjudul Introduction to Psychology, merumuskan bahwa belajar sebagai suatu perubahan yang relatif dalam menetapkan tingkah laku sebagai akibat hasil yang lalu.
Dalam kegiatan belajar mengajar, siswa adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pengajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan pembelajaran siswa dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika siswa berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan siswa disini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga segi kejiwaan. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya siswa tidak belajar, karena siswa tidak merasakan perubahan di dalam dirinya. Padahal belajar hakikatnya adalah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar. Walaupun pada kenyataannya tidak semua perubahan termasuk belajar. Misalnya perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya.
Menurut pendapat para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar merupakan perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah melakukan aktivitas tertentu, perubahan tingkah laku yang baik. Banyak faktor yang mempengaruhi belajar salah satunya adalah faktor eksternal atau dari luar diri siswa salah satunya adalah faktor lingkungan.
Adapun faktor lingkungan itu dapat di bagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Faktor lingkungan non sosial atau alami; faktor sosial ini mencakup antara lain: keadaan suhu, kelembaban udara, waktu, tempat letak gedung sekolah dan sebagainya.
2. Faktor lingkungan sosial baik berwujud manusia dan representasinya termasuk budaya akan mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa.
Pada dasarnya minat belajar siswa itu tidak semuanya sama, melainkan berbeda-beda. Menurut Nasution minat mempunyai proses dan hasil belajar. Kalau seseorang tidak berminat mempelajari sesuatu tidak diharapkan bahwa dia akan berhasil dengan baik dalam mempelajari hal tersebut, sebaliknya kalau seseorang belajar dengan penuh minat maka dapat diharapkan bahwa hasilnya akan lebih baik. Karena itu persoalan yang biasa timbul ialah bagaimana mengusahakan agar hal yang disajikan sebagai pengalamn bljar itu mrenarik minat para peljar, atau bagaimana menentukan agar para pelajar itu, belajar mengenai hal-hal yang memang menarik minat mereka.
Dalam hubungan yang terakhir ini misalnya, dapat diketengahkan perlunya pilihan jurusan atau pemilihan bidang studi pada lembaga-lembaga pendidikan formal. Sebaliknya jurusan atau bidang studi yang dipilih benar-benar sesuai dengan minat belajar, karena dengan demikian dapat diharapkan hasil belajar yang lebih baik.
Salah satu tugas pendidik atau guru adalah menciptakan suasana pembelajaran yang dapat memotivsi siswa untuk senantiasa belajar dengan baik dan bersemangat. Suasana pembelajaran yang demikian akan berdampak positif dalam pencapaian prestasi belajar yang optimal. Oleh karena itu guru sebaiknya memiliki kemampuan dalam memilih metode dan media pembelajaran yang tepat. Ketidaktepatan dalam menerima yang disampaikan sehingga materi kurang dapat dipahmi yang akan mengakibatkan siswa menjadi apatis
Adapun prestasi adalah hasil diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan. Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung.
Dari pandangan di atas maka penulis tertarik untuk menemukan permasalahan yang dipaparkan dalam sebuah laporan proposal penelitian pada mata kuliah metodologi penelitian Pendidikan Agama Islam dengan mengangkat judul ” Peran Penting Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Kinerja Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Al-Qur`an Hadits Di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ciruas”
B. Batasan Masalah
Permasalahan yang dikaitkan dengan judul diatas sangat luas, sehingga tidak mungkin dari lapangan permasalahan itu dapat terjangkau dan terselesaikan semua. Oleh karena itu perlu adanya pembatasan guna menghindari kemungkinan kesalahpahaman sehingga timbul multi penafsiran yang berbeda-beda yang akan mengakibatkan penyimpangan terhadap judul di atas, Maka dalam hal ini penulis membatasi ruang lingkup dan fokus masalah yang diteliti sebagai berikut :
1. Objek Penelitian
Objek penelitian adalah aspek-aspek dari subjek penelitian yang menajadi sasaran penelitian, meliputi :
a. Kepemimpinan Kepala Sekolah
b. Kinerja Guru
c. Prestasi Belajar Siswa Pada Mata pelajaran Al-Qur`an hadits
2. Subjek Penelitian
Subjek Penelitian ini adalah direncanakan siswa-siswi MTs Negeri Ciruas
C. Rumusan Masalah
Seperti yang telah dijelaskan pada latar belakang masalah diatas, perumusan masalah adalah “upaya untuk menyatakan secara tersurat pernyataan-pernyataan apa saja yang kita cari jawabannya”, atau dengan kata lain perumusan masalah merupakan pernyataan yang lengkap dan terperinci mengenai ruang lingkup permasalahan yang akan diteliti. Adapun perumusan masalah pada proposal penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah kepemimpinan kepala sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ciruas Kabupaten Serang?
2. Bagaimanakah kinerja guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ciruas Kabupaten Serang?
3. Bagaimana prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Al-Qur`an Hadits di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ciruas Kabupaten Serang?
4. Apakah terdapat hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ciruas Kabupaten Serang?
5. Apakah terdapat hubungan antara kinerja guru dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Al-Qur`an Hadits di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ciruas Kabupaten Serang?
6. Apakah terdapat hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Al-Qur`an Hadits di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ciruas Kabupaten Serang?
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan penelitian yang dapat penulis rumuskan dari beberapa masalah tersebut diatas adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui kepemimpinan kepala sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ciruas Kabupaten Serang.
2. Untuk mengetahui kinerja guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ciruas Kabupaten Serang.
3. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Al-Qur`an Hadits di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ciruas Kabupaten Serang.
4. Untuk mengetahui hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ciruas Kabupaten Serang.
5. Untuk mengetahui hubungan antara kinerja guru dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Al-Qur`an Hadits di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ciruas Kabupaten Serang.
6. Untuk mengetahui hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Al-Qur`an Hadits di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ciruas Kabupaten Serang.
Adapun kegunaan dari penelitian ini diharapkan bermanfaat khususnya bagi penulis, kepala sekolah, guru dan siswa serta berguna bagi dunia pendidikan dalam rangka meningkatkan pencapaian tujuan Pendidikan Nasional pada umumnya. Adapun manfaat lain dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi pengalaman dan motivasi bagi kepala sekolah, guru dan siswa tentunya peningkaatn prestasi belajarnya pada mata pelajaran Al-Qur`an Hadits di MTs Negeri Ciruas.
2. Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengembangan tentang kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru.
3. Secara praktis diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada kepala sekolah, para guru dan siswa pada umumnya dalam prestasi belajarnya pada mata pelajaran Al-Qur`an Hadits, serta dapat meningkatkan mutu pendidikan di MTs Negeri Ciruas Kabuopaten Serang.
4. Hasil penelitian ini juga merupakan bagian dari pengalaman disiplin ilmu yang penulis tempuh pada jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI).
5. Hasil penelitian ini pun diharapkan menjadi bahan masukan (input) khusunya bagi mahasiswa dan IAIN “SMH” Banten dalam peningkatan mutu belajar, dan umumnya bagi dunia pendidikan sebgai khazanah ilmu keislaman.
E. Tinjauan Pustaka
1. Kepemimpinan Kepala Sekolah (Variabel X.1)
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yangdiarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi. . Sutisna (1993) merumuskan kepemimpinan sebagai ”proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha ke arah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu”.
Sementara Soepardi (1988) mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk menggerakan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati, membimbing, menyuruh, memerintah, melarang, dan bahkan menghukum (kalau perlu), serta membina dengan maksud agar manusia sebagai media manajemen mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan administrasi secara efektif efesien. Sementara dalam pandangan Hadari Nawawi dalam buku administrasi pendidikan mengatakan kepemimpinan terbagi dalam tiga istiulah yaitu:
a. Pemimpin (leader)dengan kegiatannya disebut kepemimpinan (leadership).
b. Menejer (manager) dengan kegiatannya yang disebut manajemen (mangement).
c. Administrator dengan kegiatannya yang disebut administrasi (administration).

Beberapa pengertian lain tentang kepemimpinan adalah sebagai berikut:
a. kepemimpinan adalah proses mengarahkan, membimbing , mempengaruhi atau mengawasi pikiran, perasaan atau tindakan dan tingkah laku orang lain.
b. Kepemimpinan adalah tindakan atau perbuatan diantara perseorangan dan kelompok yang menyebabkan, baik orang seorang maupun kelompok bergerak ke arah tujuan tertentu.
Dari pengertian di atas menurut penulis sendiri mendepeiniskan tentang kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi orang lain dan mengarahkan untuk melkaukan sesuatu baik yang bersifat perintah maupun yang bersifat larangan bahkan di dalamnya sebgai motifator pembinaan bagi perseorangan atau kelompok dalam suatu organmisasi maupun lembaga.
2. Kinerja Guru (Variabel X.2)
Menurut kamus umum bahasa indonesa kinerja adalah sesuatu yang hendak dicapai, prestasi yang diperlihatkan, kemampuan dalam bekerja. adalah orang yang melakukan olah raga dengan menerima bayaran; pemain bayaran, lawan amatir. Sedangkan menurutkamus ilmiah popular professional : mengenai profesi; (mengenai) keahlian; masuk golongan terpelajar /ahli; pemain bayaran.
Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama.
Sehubungan dengan itu, kinerja adalah kesediaan seseorang atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya dengan hasil seperti yang diharapkan. Jika dikaitkan dengan performance sebagai kata benda (noun) di mana salah satu entrinya adalah hasil dari sesuatu pekerjaan (thing done), pengertian performance atau kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseoarng atau kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan secara legal, tidak melanggar hukum dan tidak bertentangan dengan moral atau etika.
Sedangkan pengertian guru menurut kamus umum bahasa indonesia adalah orang yang kerjanya mengajar , Agama, pengajara agama, Bantu, guru pada sekolah rendah sebagai pembantu;- besar, maha-, guru pada sekolah tinggi.
Guru yang professional adalah guru yang memiliki kemampuan sebagai berikut;
1. Merencanakan program belajar mengajar
2. Melaksanakan dan memimpin kegiatan belajar mengajar
3. Menilai kemajuan kegiatan belajar mengajar, dan
4. Menafsirkan dan memanfaatkan hasil penilaian kemajuan belajar mengajar dan informasi lainnya bagi penyempurnaan perencanaan pelaksanaankegiatan belajar mengajar.
3. Prestasi Belajar Siswa (Variabel Y)
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, pengertian prestasi adalah hasil yang telah dicapai, (dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya).
Syaiful Djamarah berpendapat bahwa “prestasi adalah hasil yang telah dikerjakan, diciptakan (baik sarana individu ataupun kelompok). Jadi prestasi ini ialah hasil dari sesuatu yang diperoleh kalau seseorang tersebut telah melakukan suatu kegiatan. Sementara Harun Harahap dkk, memberikan batasan bahwa prestasi adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid, yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran serta nialai-nilai yang terdapat dalam kurikulum. Sedangkan Mas’ud Hasan Abdul Kohar, prestasi itu adalah apa yang telah didapat atau diciptakan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dari suatu kegiatan yang telah diperoleh dengan jalan keuletan kerja.
Sedangkan belajar adalah suatu aktifitas yang sadar akan tujuan, karena tujuan belajar adalah tejadinya perubahan dalam diri individu, perubahan arti menuju keperkembangan seutuhnya. Menurut Slameto belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Menurut Muhibbin Syah, belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
Setelah memperhatikan pendapat pakar di atas, dapat saya simpulkan bahwa “prestasi belajar” adalah hasil yang diperoleh berupa pesan-pesan yang mengakibatkan perubahan-perubahan pada diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai yang diberikan oleh guru.



G. Kerangka Teori
1. Kepemimpinan Kepala Sekolah
Keberadaan pemimpin memegang peranan penting di dalam jalannya roda organisasi, sesuai dengan perannya sebagai penunjuk arah dan tujuan di masa depan (direct setter), agen perubahan (change agent), negosiator (spokesperson), dan sebagai pembina (coach).
Salah satu bentuk kepemimpinan yang diyakini dapat mengimbangi pola pikir dan refleksi paradigma-paradigma baru dalam arus globalisasi dirumuskan sebagai kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional yang digambarkan sebagai kepemimpinan yang membangkitkan atau memotivasi karyawan untuk dapat berkembang dan mencapai kinerja atau tingkat yang lebih tinggi lagi sehingga mampu mencapai lebih dari yang mereka perkirakan sebelumnya (beyond expectation).
Kepemimpinan merupakan suatu pola perilaku seorang pemimpin yang khas pada saat mempengaruhi anak buahnya, apa yang dipilih oleh pemimpin untuk dikerjakan, cara memimpin bertindak dalam mempengaruhi anggota kelompok membentuk gaya kepemimpinannya.
Disamping itu keberhasilan proses mengajar di sekolah itu bagaimanapun tergantung dari komponen sekolah bahkan peran kepala sekolah memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah.
Studi keberhasilan kepala sekolah menunjukan bahwa kepala sekolah adalah seseorang yang menentukan titik pusat dan irama suatu sekolah. Bahkan lebih jauh studi tersebut menyimpulkan bahwa keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah. Beberapa diantara kepala sekolah dilukiskan sebagai orang yang memiliki harapan tinggi bagi para staf dan para siswa, kepala sekolah adalah mereka yang banyak mengetahui tugas-tugas mereka dan mereka yang menetukan irama bagi sekolah mereka.
2. Kinerja Guru
Menurut PP RI No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28, pendidik adalah agen pembelajaran yang harus memiliki empat jenis kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Dalam konteks itu, maka kompetensi guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diwujudkan dalam bentuk perangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang guru untuk memangku jabatan guru sebagai profesi.
Keempat jenis kompetensi guru yang dipersyaratkan beserta subkom- potensi dan indikator esensialnya yaitu kompetensi kepribadian (personal), kompetensi pedagogik, kompetensi profesional dan kompetensi sosial.
3. Prestasi belajar Siswa
Sedangkan prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, yakni “prestasi” dan “belajar”. Antara kata prestasi dan belajar mempunyai arti yang berbeda, prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual maupun kelompok. Prestasi merupakan output dari program pendidikan dan pengajaran baik itu di rumah, di sekolah ataupun di masyarakat. Secara sadar atau tidak sadar setiap dilaksanakannya pendidikan itu memilik tujuan atau sasaran. Adapun tujuan atau sasaran tersebut adalah prestasi yang baik.
Prestasi menurut bahasa adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah dikerjakan atau dilakakukan). Berdasarkan definisi tersebut, prestasi dapat diartikan sebagai hasil yang diperoleh seseorang dari pengalamannya, baik itu pengalaman kerja ataupun pengalaman belajar, yang semuanya itu diperoleh dari kerajinan atau keuletan seseorang baik dalam bekerja maupun dalam belajar. Adapun yang dimaksud prestasi dalam konteks tulisan ini adalah prestasi yang dicapai oleh siswa dalam proses belajar mengajar.
H. Hipotesis Penelitian
Hopotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya di uji secara empiris atau pernyataan yang diterima secara sementara sebagai suatu kebenaran sebagaimana adanya pada saat fenomena di kenal dan merupakan dasar kerja serta panduan dalam verifikasi. Sesuai dengan kerangka teori di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam penyusunan proposal penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Ho : r x y = 0 :
Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru
2. Ho : r x y = 0 :
Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan prestasi belajar siswa
3. Ha : r x y > 0 :
Terdapat hubungan yang signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru
4. Ha : r x y > 0 :
Terdapat hubungan yang signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan prestasi belajar siswa

I. Metode Penelitian
Dalam penyusunan proposal penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan komparatif (perbandingan). Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sitem penilitian atau peristiwa pada masa sekarang.
Sedangkan komparatif adalah penelitian yang berusaha menemukan persamaan dan perbedaan suatu benda, orang, ide prosedur kerja, kritik orang lain atau sekelompok. Jadi metode diskriptif komporatif adalah metode yang digunakan untuk menentukan persamaan atau perbedaan tentang suatu objek yang sedang diteliti. Dalam hal ini penulis melakukan penelitian tentang perbandingan antara prestasi belajar siswa kelas unggulan dengan siswa kelas biasa.
J. Daftar Isi Sementara
Halaman Judul…………………………………………………………………... i
A. Latar Belakang Masalah ……………………………………………………. 1
B. Batasan Masalah ……………………………………………………………. 15
C. Rumusan Masalah ………………………………………………………….. 15
D. Tujuan dan kegunaan Penelitian …………………………………………… 16
E. Tinjauan Pustaka ……………………………………………………………. 18
F. Kerangka Teori ……………………………………………………………... 23
G. Hipotesis ……………………………………………………………………. 25
H. Metode Penelitian …………………………………………………………... 26
I. Daftar isi Sementara ………………………………………………………… 27
J. Bibliografi …………………………………………………………………… 28


BIBLIOGRAFI

Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan filsafat Pendidikan Islam,(Jakarta: Bulan Bintang, 1979)

Departemen Agama RI, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Penerbit CV Eko Jaya. Jakarta 1989.

E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009).

Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1999

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya 1991).

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Logos. 1999).

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 1998).

Soetjipto, Profesi Keguruan , (Jakarta: Rineka Cipta, 2002).

Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: PT. Rineka Cipta. 1995).

Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi dan Potensi Guru, (Surabaya: Usaha Nasional. 1994).

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1985).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar