Rabu, 29 Februari 2012

Makalah Metedologi Penelitian

HAKIKAT KEBENARAN

A. PENDAHULUAN
Seperti apa yang telah kita ketahui bersama, bahwa ilmu adalah suatub pengetahuan yang sistematis dan terorganisasi. Kita juga sudah memahami tentang penelitian yang akan diuraikan pada pembahasan kali ini, namun perlu kita singgung bahwa kebenaran yang diperoleh melalui penelitian terhadap penomena yang fana adalah suatu kebenaran yang telah ditemukan melalui proses ilmiah, karena penemuan tersebut dilakukan secara ilmiah.
Kebenaran yang diperoleh dengan cara merenungkan atau memikirkan sesuatu sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya, baik sesuatu itu ada atau mungkin tidak ada. Kebenaran filsafat ini memiliki proses penemuan dan pengujian kebenaran yang unik dan dibagi dalam beberapa kelompok (madzab). Bagi yang tidak terbiasa (termasuk saya) mungkin terminologi yang digunakan cukup membingungkan. Juga banyak yang oportunis alias menganut madzab dualisme kelompok, misalnya mengakui kebenaran realisme dan naturalisme sekaligus.
Perlu juga disinggung bahwa kebenaran yang diperoleh melalui penelitian terhadap fenomena yang fana adalah suatu kebenaran yang telah ditremukan melalui proses ilmiah, karena penemuan tersebut dilakukan secara ilmiah. Sebaliknya, banyak juga kebenaran terhadap fenomena yang fana diterima tidak melalui proses penelitian.
Pengetahuan merupakan informasi yang diketahui atau disadari oleh seseorang yang diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman inderawi. Pada hakikatnya pengetahuan itu meliputi semua yang diketahui oleh seseorang tentang obyek tertentu. Pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman tentang segala hal yang baik maupun yang buruk . Hal ini menurut M. Hatta disebut pengetahuan pengalaman. Dengan adanya pengetahuan yang diperoleh dari proses mengetahui akan dapat mengembangkan kemampuan kita dalam berinteraksi dengan dunia dan sekitarnya sehingga dapat memudahkan kehidupan kita. Pengetahuan itu mencakup knowledge, science, seni, dan teknologi yang saling berkaitan erat satu dengan yang lainnya.
B. HAKIKAT KEBENARAN
1. Pengertian Kebenaran Ilmiah
Kebenaran yang diperoleh secara mendalam berdasarkan proses penelitian dan penalaran logika ilmiah. Kebenaran ilmiah ini dapat ditemukan dan diuji dengan pendekatan pragmatis, koresponden, koheren.
a. Kebenaran Pragmatis: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila memiliki kegunaan/manfaat praktis dan bersifat fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, Yadi mau bekerja di sebuah perusahaan minyak karena diberi gaji tinggi. Yadi bersifat pragmatis, artinya mau bekerja di perusahaan tersebut karena ada manfaatnya bagi dirinya, yaitu mendapatkan gaji tinggi.
b. Kebenaran Koresponden: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila materi pengetahuan yang terkandung didalamnya berhubungan atau memiliki korespondensi dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Teori koresponden menggunakan logika induktif, artinya metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Dengan kata lain kesimpulan akhir ditarik karena ada fakta-fakta mendukung yang telah diteliti dan dianalisa sebelumnya. Contohnya, Jurusan teknik elektro, teknik mesin, dan teknik sipil Undip ada di Tembalang. Jadi Fakultas Teknik Undip ada di Tembalang.
c. Kebenaran Koheren: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila konsisten dan memiliki koherensi dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Teori koheren menggunakan logika deduktif, artinya metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal umum ke khusus. Contohnya, seluruh mahasiswa Undip harus mengikuti kegiatan Ospek. Luri adalah mahasiswa Undip, jadi harus mengikuti kegiatan Ospek.
2. Kebenaran Non-Ilmiah
Berbeda dengan kebenaran ilmiah yang diperoleh berdasarkan penalaran logika ilmiah, ada juga kebenaran karena faktor-faktor non-ilmiah. Beberapa diantaranya adalah:
a. Kebenaran Karena Kebetulan: Kebenaran yang didapat dari kebetulan dan tidak ditemukan secara ilmiah. Tidak dapat diandalkan karena kadang kita sering tertipu dengan kebetulan yang tidak bisa dibuktikan. Namun satu atau dua kebetulan bisa juga menjadi perantara kebenaran ilmiah, misalnya penemuan kristal Urease oleh Dr. J.S. Summers.
b. Kebenaran Karena Akal Sehat: (Common Sense): Akal sehat adalah serangkaian konsep yang dipercayai dapat memecahkan masalah secara praktis. Kepercayaan bahwa hukuman fisik merupakan alat utama untuk pendidikan adalah termasuk kebenaran akal sehat ini. Penelitian psikologi kemudian membuktikan hal itu tidak benar.
c. Kebenaran Agama dan Wahyu: Kebenaran mutlak dan asasi dari Allah dan Rasulnya. Beberapa hal masih bisa dinalar dengan panca indra manusia, tapi sebagian hal lain tidak.
d. Kebenaran Intuitif: Kebenaran yang didapat dari proses luar sadar tanpa menggunakan penalaran dan proses berpikir. Kebenaran intuitif sukar dipercaya dan tidak bisa dibuktikan, hanya sering dimiliki oleh orang yang berpengalaman lama dan mendarah daging di suatu bidang. Contohnya adalah kasus patung Kouros dan museum Getty diatas.
e. Kebenaran Karena Trial dan Error: Kebenaran yang diperoleh karena mengulang-ulang pekerjaan, baik metode, teknik, materi dan paramater-parameter sampai akhirnya menemukan sesuatu. Memerlukan waktu lama dan biaya tinggi.
f. Kebenaran Spekulasi: Kebenaran karena adanya pertimbangan meskipun kurang dipikirkan secara matang. Dikerjakan dengan penuh resiko, relatif lebih cepat dan biaya lebih rendah daripada trial-error.
g. Kebenaran Karena Kewibawaan: Kebenaran yang diterima karena pengaruh kewibawaan seseorang. Seorang tersebut bisa ilmuwan, pakar atau ahli yang memiliki kompetensi dan otoritas dalam suatu bidang ilmu. Kadang kebenaran yang keluar darinya diterima begitu saja tanpa perlu diuji. Kebenaran ini bisa benar tapi juga bisa salah karena tanpa prosedur ilmiah.
C. PENGETAHUAN
1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan mengandung tiga pembahasan yang saling berkaitan antara satu dan lainnya, yaitu pertama ontologis yang membicarakan masalah tentang “apa pengetahuan”, ontologi dinamakan sebagai teori hakekat. Di dalam ontologi membahas dua bidang yaitu: kosmologi membicarakan hakekat asal, hakekat susunan, hakekat berada, juga hakekat tujuan kosmos. Dan metafisik atau antropologi secara etimologis berarti dibalik atau dibelakang fisika artinya ia ingin mengerti atau mengetahui apa yang ada dibalik dari alam ini atau suatu yang tidak nampak.Yang kedua epistimologis membicarakan masalah tentang “bagaimana pengetahuan”, epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Dan yang ketiga aksiologis membicaran masalah tentang “untuk apa pengetahuan”. Aksiologi ialah cabang filsafat yang menyelidiki nilai-nilai (value), tindakan moral melahirkan nilai etika, ekspresi keindahan yang melahirkan nilai estetika dan kehidupan sosialah yang menjelaskan apa yang di anggap baik dalam tingkah laku manusia, apa yang di maksud indah dalam seni. Demikian pula apakah yang benar dan diinginkan di dalam organisasi sosial kemasyarakatan dan kenegaraan.
Pengetahuan merupakan proses untuk mengetahui kebenaran. Kebenaran adalah suatu pernyataan tanpa keraguan. Pada hakekatnya kebenaran adalah sesuatu yang bersifat relatif. Jelaslah bahwa terdapat relasi yang sangat erat antara ilmu pengetahuan dan kebenaran. Kebenaran hanya dapat diperoleh dengan pengetahuan. Manusia sebagai dinamika selalu mengembangkan pengetahuannya untuk mencari kebenaran . Dan pencarian kebenaran ini tidak akan pernah terhenti karena sifat manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang sudah didapatnya.
Manusia mempergunakan 2 cara dalam mendapatkan pengetahuan yang benar, yaitu dengan berdasarkan rasio (rasionalisme) dan pengalaman (empirisme). Menurut paham rasionalisme pengetahuan didapatkan oleh manusia dari proses berpikir. Sedangkan menurut paham empirisme, pengetahuan manusia didapatkan melalui pengalaman yang konkret dengan mengamati gejala-gejala alam dan gejala-gejala sosial dalam kehidupan sehari-hari. Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori; tidak menekankan pada pengalaman. Misalnya pengetahuan tentang matematika. Dalam matematika, hasil 1 + 1 = 2 bukan didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan empiris, melainkan melalui sebuah pemikiran logis akal budi. Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman inderawi dikenal sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini bisa didapatkan dengan melakukan pengamatan dan observasi yang dilakukan secara empiris dan rasional.
Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang menjadi pengetahuan deskriptif bila seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut. Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulangkali. Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi. Selain dari rasio dan pengalaman, pengetahuan yang benar dapat diperoleh dari intusi atau wahyu. Namun intuisi ini bersifat personal dan tidak bisa diramalkan, sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur.
Kriteria kebenaran bersifat tidak mutlak, berbeda-beda menurut waktu, tempat, dan orang. Pernyataan tentang kebenaran dilakukan melalui suatu proses penalaran. Proses ini bertitik tolak pada postulat-postulat tertentu tentang apa yang diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian. Penalaran silogisme, misalnya bertitik tolak pada suatu premis mayor dan suatu premis minor. Premis mayor adalah suatu pernyataan yang berlaku umum dengan kebenaran yang tidak perlu dibuktikan. Terdapat 3 kriteria kebenaran, yaitu:
a. Kriteria koherensi
Sekelompok orang menganggap suatu pengetahuan adalah benar apabila secara deduktif dapat dinyatakan bahwa memang pernyataan itu benar, artinya pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan kebenaran-kebenaran yang telah dinyatakan sebelumnya.
b. Kriteria korespondensi
Paham yang menganggap bahwa suatu pernyataan adalah benar apabila materi pengetahuan yang terkandung dalam pernyataan berhubungan (berkorespondensi) dengan obyek yang dimaksud oleh pernyataan tersebut. Dengan kata lain, untuk mengetahui apakah suatu pernyataan mempunyai nilai korespondensi yang tinggi, perlu dilakukan pengujian-pengujian secara induktif.
c. Kriteria pragmatik
Beranggapan bahwa suatu ungkapan adalah benar apabila mempunyai kegunaan yang bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Jadi suatu pernyataan yang benar selalu mempunyai maslahat bagi manusia.
2. Teori, Proposisi, dan Konsep
a. Teori
Teori adalah seperangkat hubungan antarkonsep yang sistematis sehingga membentuk suatu rangkaian hubungan yang komprehensif untuk memaparkan, menjelaskan, dan memprediksikan suatu gejala sosial. Teori sangat penting digunakan dalam penelitian empiris. Beberapa pengertian teori menurut menurut para ahli, yaitu:
1) Teori menurut Nan Lin adalah A set of interrelated propositions, some of which can be empirically test. Teori pertama-tama terdiri atas seperangkat proposisi, yaitu pernyataan-pernyataan tentang hubungan di antara dua konsep atau lebih.
2) Menurut Kerlinger adalah A theory is a set of interrelated constructs (concepts), definitions, and propositions that present a systematic view of phenomena by specify relations among variables, with the purpose of explaining and predicting the phenomena. Masing-masing proposisi atau konsep saling menerangkan sehingga kita memperoleh gambaran yang bulat dan utuh tentang suatu peristiwa. Suatu teori terdiri atas seperangkat proposisi yang saling berkaitan. Keterakaitan tersebut tersusun dalam suatu sistem yang memungkinkan kita mempunyai pengetahuan sistematis tentang suatu peristiwa.
Beberapa fungsi teori, yaitu:
1) Fungsi eksplanatif, yaitu fungsi menjelaskan. Suatu teori harus mampu menjelaskan hubungan antara peristiwa yang satu dengan peristiwa lain yang terdapat dalam pengalaman empiris.
2) Fungsi prediktif, yaitu fungsi peramalan atau perkiraan. Jika suatu teori dapat menjelaskan hubungan antara pendidikan dengan pendapatan masyarakat, maka ia dapat pula memperkirakan tingkat pendapatan suatu masyarakat dengan perkembangan pendidikan tertentu. Prediksi dengan sifatnya yang probabilitas itu dapat diterapkan dalam tiga jenis situasi, yaitu untuk waktu yang akan datang dan waktu yang telah lampau, tempat berbeda, dan kelompok sosial yang besar.
3) Fungsi kontrol yaitu teori yang tidak hanya menjelaskan dan meperkirakan, tetapi juga mampu mengendalikan peristiwa supaya tidak mengarah pada hal-hal yang negatif.

b. Proposisi
Proposisi adalah pernyataan tentang sifat dan realita. Proposisi tersebut dapat diuji kebenarannya. Jika proposisi sudah dirumuskan sedemikian rupa dan sementara diterima untuk diuji kebenarannya, proposisi tersebut disebut hipotesis. Dalam ilmu social, proposisi biasanya pernyataan antara dua atau lebih konsep.
Proposisi merupakan ungkapan atau pernyataan yang dapat dipercaya, disangkal atau diuji kebenarannya, mengenai konsep atau konstruk yang menjelaskan atau memprediksi fenomena. Proposisi adalah pernyataan tentang hubungan antara dua konsep atau lebih. Jika harga barang naik, maka permintaan berkurang. Harga dan permintaan adalah dua konsep yang dihubungkan dengan jika dan maka, pernyataan ini adalah proposisi. Proposisi merupakan bahan untuk membentuk teori, dan membutuhkan konsep sebagai bahan bakunya. Suatu preposisi mempunyai makna teoritis jika ia dibentuk dari konsep-konsep kunci suatu disiplin ilmu pengetahuan.
c. Konsep
Konsep adalah abstraksi tingkat pertama terhadap fakta atau realita. Sedangkan konstruk (construct) adalah suatu konsep yang diciptakan dan digunakan dengan kesengajaan dan kesadaran untuk tujuan-tujuan ilmiah tertentu, atau juga konstruk adalah konsep yang dapat diamati dan diukur.
Konsep merupakan bahan baku ilmu pengetahuan. Dari konsep dibentuk proposisi, dan proposisi itu membentuk teori. Nan Lin merumuskan konsep sebagai: a term which has been assigned some specific meaning. Konsep adalah istilah atau simbol yang menunjuk pada suatu pengertian tertentu. Konsep adalah sesuatu yang abstrak tetapi menunjuk pada sesuatu yang konkret. Abstraksi suatu konsep itu bertingkat-tingkat, ada yang abstraksinya sangat tinggi, dan ada yang rendah.
D. PENELITIAN ILMIAH
1. Pengertian Penelitian Ilmiah
Penelitian atau riset adalah terjemahan dari bahasa Inggris research, yang merupakan gabungan dari kata re (kembali) dan to search (mencari). Beberapa sumber lain menyebutkan bahwa research adalah berasal dari bahasa Perancis recherche Intinya hakekat penelitian adalah “mencari kembali”. Sedangkan penelitian ilmiah merupakan usaha untuk memperoleh fakta-fakta atau mengembangkan prinsip-prinsip menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran, dengan cara atau kegiatan mengumpulkan, mencatat dan menganalisa data (informasi/keterangan) yang dikerjakan dengan sabar, hati-hati, sistematis dan berdasarkan ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah. Atau penelitian ilmiah merupakan proses tanya jawab yang diperhatikan dari peristiwa-peristiwa empiris yang terdiri dari gejala alam dan gelaja sosial dalam kerangka berpikir teoritis tertentu.
Nan Lin menjelaskan tentang penelitian sosial, yaitu: “Social research is conducted, first of all, to detect regularities in various social relations. It is olso conducted to provide clues to possible solutions to social problems. The first reason is conseptual or theoretical one, and the second a pragmatyc or applied one”. Sasaran penelitian sosial adalah gelaja-gejala sosial yang terdapat di dalam berbagai relasi sosial. Tujuan penelitian menurut Nan Lin adalah untuk menemukan hukum atau keteraturan yang bekerja di dalam gejala-gejala itu dan untuk memecahkan masalah yang terdapat dalam relasi-relasi sosial.
Menurut Kerlinger tentang pengertian penelitian dilihat dari segi prosesnya, yaitu: Scientific research is systematic, controlled, empirical, and critical investigation of hypotetical propositions about the presumed relations among natural phenomena. Definisi ini menjelaskan bahwa proses penelitian itu pertama-pertama adalah menyusun hipotesis tentang hubungan-hubungan yang diperkirakan terdapat di antara fenomena-fenomena itu. Ada empat kriteria yang perlu dipenuhi dalam suatu penelitian ilmiah yaitu:
a. Penelitian dilakukan secara sistematis.
b. Penelitian dilakukan secara terkendali.
c. Penelitian dilakukan secara empiris.
d. Penelitian bersifat kritis.
2. Tipe Penelitian
Penelitian bertitik tolak pada pertanyaan bukan pernyataan. Jawaban dari suatu pertanyaan akan dipertanyakan lagi, sehingga kita sampai pada pertanyaan yang paling mendasar. Pertanyaan dasar tersebut menentukan tipe penelitian yang hendak dilaksanakan. ada 3 pertanyaan dasar yang menentukan tipe penelitian secara empiris, yaitu (1) apa, (2) bagaimana, dan (3) mengapa. Tipe-tipe penelitian, sebagai berkut:
a. Penelitian Eksploratif
Tipe penelitian eksploratif adalah tipe penelitian yang bertujuan untuk menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru itu dapat saja berupa pengelompokan suatu gejala, fakta, dan penyakit tertentu. Penelitian ini banyak memakan waktu dan biaya. Tipe penelitian ini berhubungan dengan pertanyaan dasar yang pertama, yaitu apa. Pertanyaan ini ingin mengetahui suatu gejala atau peristiwa dengan melakukan penjajakan terhadap gejala tersebut.
b. Penelitian Deskriptif
Tipe penelitian ini didasarkan pada pertanyaan dasar yang kedua, yaitu bagaimana. Pertanyaan ini ingin mengetahui bagaimana suatu peristiwa itu terjadi. Penelitian deskriptif(descriptive research) ditujukan untuk mendeskripsikan suatu keadaan atau fenomena-fenomena apa adanya.
c. Penelitian Eksplanatif
Tipe penelitian ini bertitik tolak pada pertanyaan dasar mengapa. Pertanyaan ini ingin menjelaskan sebab peristiwa itu terjadi.
d. Penelitian Eksperimen
Tipe penelitian ini diperoleh dari hasil-hasil penemuan yang di mana datanya belum pernah ada, sehingga harus diciptakan terlebih dahulu. Penelitian eksplanatif (explanative research) ditujukan untuk memberikan penjelasan tentang hubungan antar fenomena atau variabel. Dalam kehidupan kita menghadapi banyak hal, fakta, kegiatan, peristiwa, perkembangan, konflik, dsb., yang dalam penelitian kita sebut variabel.
3. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian terbagi ke dalan 2 bagian, yaitu:
a. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis disebut sebagai manfaat akademis. Yakni manfaat yang dapat membantu kita untuk lebih memahami suatu konsep atau teori dalam suatu displin ilmu. Konsep atau teori di sini biasanya hanya sebagaian kecil dari konsep atau teori yang dibangun oleh banyak ilmuwan.
Penelitian yang bertitik tolak dari meragukan suatu teori tertentu disebut penelitian verifikatif. Keraguan terhadap suatu teori muncul jika teori yang bersangkutan tidak bisa lagi menjelaskan peristiwa-peristiwa aktual yang dihadapi. Pengujian terhadap teori tersebut dilakukan melalui penelitian empiris, dan hasilnya bisa menolak, atau mengukuhkan, atau merevisi teori yang bersangkutan. Secara teoritis penelitian berguna sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
b. Manfaat Praktis
Manfaat praktis adalah manfaat yang bersifat terapan dan dapat segera digunakan untuk keperluan praktis, misalnya memecahkan suatu masalah, membuat keputusan, memperbaiki suatu program yang sedang berjalan. Dalam manfaat praktis, peneliti juga harus bersifat praktis, langsung pada persoalan dan spesifik. Penelitian bermanfaat untuk memecahkan masalah-masalah praktis. Mengubah lahan kering menjadi lahan subur, mengubah cara kerja supaya lebih efisien, dan mengubah kurikulum supaya lebih berdaya guna bagi pembangunan sumber daya manusia merupakan contoh-contoh permasalahan yang dapat di bantu pemecahannya melalui penelitian ilmiah. Secara praktis berguna sebagai upaya yang dapat dipetik langsung manfaatnya.
Mencari hakekat kebenaran mungkin sering kita ucapkan, tapi susah dilaksanakan. Makhluk apa itu kebenaran juga kita kadang masih nggak ngerti.  Yang pasti bahwa “benar” itu pasti “tidak salah”. Pertanyaan-pertanyaan kritis kita di masa kecil, misalnya mengapa gajah berkaki empat, mengapa burung bisa terbang, dsb kadang tidak terjawab secara baik oleh orang tua kita. Sehingga akhirnya sering sesuatu kita anggap sebagai yang memang sudah demikian wajarnya (taken for granted). Banyak para ahli yang memaparkan ide tentang sudut pandang kebenaran termasuk bagaimana membuktikannya. Saya mencoba ulas masalah hakekat kebenaran ini dari tiga sudut pandang yaitu: kebenaran ilmiah, kebenaran non-ilmiah dan kebenaran filsafat.
Harus kita pahami lebih dahulu bahwa meskipun kebenaran ilmiah sifatnya lebih sahih, logis, terbukti, terukur dengan parameter yang jelas, bukan berarti bahwa kebenaran non-ilmiah atau filasat selalu salah. Malah bisa saja kebenaran non-ilmiah dan kebenaran filsafat  terbukti lebih “benar” daripada kebenaran ilmiah yang disusun dengan logika, penelitian dan analisa ilmu yang matang. Contoh menarik adalah kasus patung Kouros yang telah diteliti dan dibuktikan keasliannya oleh puluhan pakar selama lebih dari 1,5 tahun di tahun 1983, bahkan juga dianalisa dengan berbagai alat canggih seperti mikroskop elektron, mass spectrometry, x-ray diffraction, dsb. Namun beberapa pakar lain (George Despinis, Angelos Delivorrias) menggunakan pendekatan intuitif sebagai ahli geologi dan mengatakan bahwa patung tersebut palsu (terlalu fresh, seolah tidak pernah terkubur, kelihatan janggal). Akhirnya patung itu dibeli dengan harga tinggi oleh museum J. Paul Getty di California dengan asumsi kebenaran ilmiah lebih bisa dipertanggungjawabkan. Kenyataan kemudian membuktikan bahwa semua dokumen tentang surat tersebut palsu, dan patung itu dipahat disebuah bengkel tempa di Roma tahun 1980. Cerita ini menjadi pengantar buku bestseller berjudul Blink karya Malcolm Gladwell.
Pada prinsipnya, manusia merupakan makhluk yang memiliki curiosity. Potensi curiosity ini, akan mampu mengantarkan manusia menjadi makhluk yang berpengetahuan. Pengetahuan tersebut mereka kembangkan bermula dari rasa keraguan yang memunculkan pertanyaan, yang kemudian mereka berusaha mencari suatu jawaban dari pertanyaan tersebut, yang kelak akan menjadi suatu pengetahuan bagi mereka.
Pengetahuan yang dimiliki manusia, pada akikatnya meliputi semua yang diketahui tentang obyek tertentu. Pengetahuan tersebut ada yang diperole manusia melalui panca indera, perasaan, rasio, dintuisi, atau bahkan wahyu dari Allah SWT. Persoalannya kemudian adalah pengetahuan yang seperti apa yang dapat dikatagorikan sebagai suatu kebenaran? Karena pada kenyataannya, pengetahuan yang dimiliki manusia tidak semuanya merupakan suatu kebenaran. Mari kita cermati kembali jenis manusia berdasarkan pengetahuannya.
Ada manusia yang tahu di tahunya
Ada manusia yang tahu di tidak tahunya
Ada manusia yang tidak tahu di tahunya
Ada manusia yang tidak tahu di tidak tahunya
Suatu pengetahuan yang berkembang menjadi suatu pengetahuan yang benar merupakan implikasi dari adanya potensi nalar manusia, yang menuntutnya untuk berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Selain penalaran, pengetahuan dapat berkembang dilatarbelakangi pula oleh adanya baasa komunikatif, yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut.
Berbicara pengetahuan yang benar, pada hakikatnya berbicara cara bagaimana pengetahuan tersebut diperoleh. Suatu pengetahuan perlu diuji kebenarannya melalui suatu riset. Riset inilah yang kemudian hari dikenal dengan metodologi penelitian. Metodologi penelitian ini merupakan suatu kerangka kerja ilmiah yang menuntut optimalisasi penalaran dan bahasa komunikatif manusia untuk mengembangkan pengetahuan agar diperoleh suatu pengetahuan yang benar.
Sebelum lebih jau kita membahas mengenai metodologi penelitian, mari kita cermati terlebih dahulu kriteria kebenaran suatu pengetahuan.
Jenis Kebenaran Logika Kriteria Contoh
Benar Salah
Koherensi Deduktif Konsisten anatar a, b, c, dan d. Tidak konsisten Silogisme (Premis Mayor, Premis Minor, dan simpulan)
Korespondensi Induktif Bila sesuai dengan obyek yang dituju Tidak sesuai Ibu kota Indonesia adalah Jakarta
Pragmatis Pragmatis Bila mempunyai kegunaan atau efektivitas Bila tidak berguna Bekerja mendapat upah
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa teori kebenaran terbagi menjadi tiga, yaitu:

1. Teori Koherensi
Teori ini mengemukakan bahwa suatu pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan kebenaran umum.
2. Teori Korespondensi
Teori ini mengemukakan bahwa suatu pernyataan dianggap benar apabila materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju.
3. Teori Pragmatis
Teori ini mengemukakan bahwa suatu pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.
Namun demikian, pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang diperoleh melalui serangkaian metode ilmiah dalam suatu penelitian ilmiah, yang dilakukan dengan pendekatan metode deduktif (logika) dan induktif (fakta). Kebenaran pengetahuan ini merupakan gabungan asumsi dari kaum rasionalisme yang berpendapat bahwa rasio merupakan sumber pengetahuan sehingga pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan deduktif, dan kaum empirisme yang berpendapat bahwa fakta yang tertangkap melalui pengalaman manusia merupakan sumber kebenaran sehingga pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan induktif.
Sebagaimana telah disinggung bahwa pengetahuan yang benar, pada prinsipnya berbicara bagaimana cara memperoleh pengetahuan tersebut. Proses pengetahuan tersebut diperoleh, berhubungan dengan epistemologi pengetahuan. Epistemologi merupakan ilmu yang berkaitan dengan bagaimana cara yang harus ditempuh untuk mengetahui hakikat obyek yang ditelaahnya, yaitu dengan metode keilmuan atau metode penelitian. Metodologi penelitian tidak anya berhubungan dengan pengetahuan, tetapi juga dengan ilmu pengetahuan. Karena itu, metodologi pengetahuan termasuk dalam apa yang disebut epistemologi. Epistemologi adalah ilmu mengetahui, sedangkan metodologi (bagian dari epistemologi) dapat dikatakan sebagai ilmu menemukan. Ada beberapa cara yang dipergunakan oleh manusia untuk memperoleh pengetahuan di antaranya:
a. Metode Keteguhan (Tenacity)
Dalam metode ini, manusia menerima suatu pengetahuan berlandaskan dengan keyakinan terhadap kebenaran pengetahuannya. Unsur keyakinan sangat berpengaruh dalam metode ini sehingga ia bisa menjadi salah satu sumber kebenaran pengetahuan.

b. Metode Otoritas
Dalam metode ini manusia menerima suatu pengetahuan berlandaskan pada suatu sumber yang memiliki otoritas tinggi seperti kitab suci dan pernyataan-pernyataan yang muncul dari para ahli.
c. Metode a Priori atau Intuisi
Dalam metode ini manusia menerima suatu pengetahuan yang berlandaskan pada sumber dari intuisi.
d. Metode Tradisi
Dalam metode ini, manusia menerima kebenaran suatu pengetahuan berlandaskan pada tradisi yang berlaku di dalam lingkungannya.
e. Metode Trial and Error
Dalam metode ini, manusia menerima pengetahuan berlandaskan pada pengalaman langsung yang diperolehnya dari hasil serangkaian percobaan yang tidak sistematis sampai menemukan suatu keberhasilan yang dianggapnya sebagai jawaban yang benar.
f. Metode Metafisik
Dalam metode ini, manusia menerima pengetahuan berlandaskan pada metafisik. Pengetahuan yang diperolenya dalam dunia empiris dicari di dalam dunia supernatural, di dalam dunia transenden, misalnya pengetahuan yang bersumber dari ajaran agama atau kepercayaan atau mistik
g. Metode Ilmiah
menurut Almack (1931) metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsp-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan, dan penjelasan kebenaran. Dalam metode ini, manusia menerima pengetahuan berlandaskan pada serangkaian langkah-langkah dalam penelitian yang dilakukan melalui proses deduksi dan induksi yang dilakukan secara sistematis. Moh. Nazir menyebutkan enam kriteria dalam metode ini, yaitu:
1. Berdasarkan fakta;
2. Bebas dari prasangka;
3. Menggunakan prinsip-prinsip analitis;
4. Menggunakan hipotesis;
5. Menggunakan ukuran obyektif; dan
6. Menggunakan teknik kuantitatif.

E. METODE ILMIAH DAN METODE AKAL SEHAT

Metode penelitian ilmiah sering dibedakan dengan metode akal sehat (common sense) terutama dalam proses penelitiannya. Metode ilmiah adalah serangkaian langkah-langkah dalam penelitian yang dilakukan melalui proses deduksi dan induksi, sedangkan metode akal sehat (common sense) adalah serangkaian langkah untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam dan pengetahuan yang diperolehnya, baik melalui pengalaman secara tidak sengaja, yang bersifat sporadis, maupun secara kebetulan. Metode akal sehat memiliki kelemahan di antaranya:
1. Akal sehat cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan karena landasannya yang berakar pada adapt dan tradisi;
2. Akal sehat cenderung bersifat kabur dan samar-samar karena landasannya yang berakar kurang kuat; dan
3. Akal sehat lebih merupakan pengetahuan yang tidak teruji karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi yang tidak dikaji lebi lanjut.
Kerlinger membedakan metode ilmiah dengan metode akal sehat dalam lima hal sebagai berikut.
Aspek Pembeda Metode Ilmiah Metode Akal Sehat
(common sense)
Pola Konseptual dan Struktur Teoritis Gejala yang nampak di lapangan, dijelaskan dengan menggunakan teori dan konsep secara ketat dan terkendali sehingga diteliti secara realistis dengan menguji kebenarannya secara empiris Gejala yang nampak di lapangan, dijelaskan dengan teori dan konsep secara longgar sehingga sering diterima begitu saja tanpa mempertanyakan lebih dalam
Teori dan Hipotesis Diuji secara sistematis dan empiris Diuji secara selektif dan tidak obyektif
Pengamatan Fenomena Dilakukan secara terkendali (terkontrol) sehingga untuk mengetahui sebab-sebab dari suatu peristiwa, dikumpulkan seperangkat variabel yang diangkat sebagai variabel kontrol terhadap peristiwa yang terjadi Mengenyampingkan variabel kontrol sehingga fenomena sebagai sebab dari peristiwa tertentu, diterima dengan begitu saja
Korelasi Antarvariabel Dua fenomena yang muncul di lapangan diteliti secara sistematis sebelum kemudian diketahui hubungan antara keduanya Dua fenomena yang muncul di lapangan sering langsung dihubungkan dalam satu hubungan sebab-akibat tanpa melalui penelitian yang dilakukan secara sistematis dan empiris
Kriteria Kebenaran Bersifat empiris berdasarkan penelitian terhadap fakta-fakta yang realistis di lapangan dan mengenyampingkan semua hal yang bersifat metafisik Bersifat metafisik tanpa melakukan penelitian yang bersifat realistis

Selain itu, perbedaan antara keduanya dapat dilihat pula dari output manusianya yang merupakan implikasi dari perbedaan pengetahuan yang diperolehnya. Di mana, metode ilmiah menghasilkan output berupa masyarakat ilmuwan, sedangkan metode akal sehat (common sense) menghasilkan output masyarakat awam. Perbedaan kedua output masyarakat tersebut terletak pada pola pikir masing-masing. Seorang yang awam, proses rasionalisasinya didasarkan pada jalan pikiran yang keliru dan materi pikiran yang tidak benar sehingga dengan mudah ia akan mempercayai asumsi yang sepintas kelihatannya masuk akal, sedangkan seorang ilmuwan, proses pasionalisasinya tidak hanya mengalir melalui pola-pola yang teratur, namun segenap materi yang menjadi bahan pemikirannya dikaji dengan teliti. Ia tidak menolak atau menerima sesuatu dengan mudah tanpa suatu pemikiran yang cermat sehingga menjadikannya seseorang yang memiliki tanggung jawab sosial.
F. PENELITIAN ILMIAH
Kata “penelitian” perspektif masyarakat awam mungkin konotasinya akan berbeda dengan perspektif masyarakat ilmuwan. Dalam perspektif masyarakat awam, “penelitian” memiliki pengertian sebagai suatu tugas yang dilakukan oleh profesor dengan seperangkat alat kerjanya di suatu laboratorium. Seorang profesor yang asyik mengamati reaksi zat-zat yang dicampur di dalam tabung reaksi atau tabung Erlenmeyer atau alat-alat lain yang serba rumit. Bagi masyarakat awam, meneliti adala tugas para ahli, profesor, dan dokter serta hanya kalangan ilmuwan. Mereka belum menyadari bahwa pada akikatnya, setiap orang sedang melakukan penelitian. Seseorang yang ingin melakukan perubahan, ia adalah orang yang meneliti karena terus menerus mencari jawaban dari pertanyaan “why”. Seorang ibu membeli sekian ons terigu, beberapa butir telur, sekian ons gula pasir, mentega, dan bahan-bahan lainnya untuk membuat sebuah kue yang lezat. Ibu tersebut tidak puas dengan hasil pekerjaannya itu. Ia selalu berpikir mencari cara bagaimana agar diperoleh kue yang lebih enak lagi dengan bahan-bahan yang sama atau mungkin dengan bahan yang lebih sedikit sehingga biayanya lebih murah. Ibu ini sebenarnya sedang mangadakan penelitian, tetapi tidak melalui prosedur yang jelas dan tidak melaporkan hasilnya dalam bentuk tulisan.
Dengan demikian, penelitian dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan dan di mana saja. Namun, yang membedakannya adalah prosedur dan kualitas penelitiannya. Penelitian yang dilandasi oleh kerangka berpikir teoritis tertentu, itulah yang disebut dengan penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah adalah operasionalisasi metode ilmiah dalam kegiatan keilmuan yang kemudian dikomunikasikan melalui bahasa tulisan. Namun, mengenai hakikat penelitian dapat dibandingkan dengan dua puluh pandangan penelitian (Rusdin, 2004 : 2-3), yaitu:
1. kegiatan mengaktualisasikan teori
2. sesuatu yang dilakukan oleh kalangan akademisi atau ahli
3. kegiatan yang dilakukan sangat luas
4. kegiatan menemukan dan menganalisis fakta-fakta
5. tujuan
6. upaya membenarkan apa yang ingin dilakukan oleh pihak penyandang dana
7. membuktikan sesuatu yang diinginkan
8. melibatkan banyak sekali jargon
9. dapat dilakukan dengan banyak cara
10. mengeksploitasi kalangan miskin
11. kegiatan tanpa manfaat
12. kegiatan yang sangat sulit dilakukan
13. kegiatan yang banyak menghabiskan waktu
14. kegiatan ilmiah
15. kegiatan yang dikontrol dengan ketat
16. kegiatan yang hilang dari realitas
17. tidak dapat mengubah sesuatu
18. kegiatan yang seharusnya selalu terkait dengan kebijakan
19. dapat memutuskan hubungan (relationship)
20. saya tidak pernah dapat melakukan penelitian

Adapun tujuan penelitian ilmiah sendiri menurut Nan Lin adalah;
a. Tujuan Teoritis, artinya penelitian ilmiah dilakukan untuk mengembangkan teori dengan menemukan hukum atau keteraturan yang bekerja di dalam gejala-gejala itu.
b. Tujuan Praktis, artinya penelitian ilmiah dilakukan untuk memecakan masalah yang terdapat di dalam relasi-relasi sosial.
Di dalam menyusun penelitian, perlu diperhatikan kriteria yang harus dipenuhi sebagai berikut:
1) Sistematis,
Artinya, penelitian tersebut disusun secara sistematis menurut pola tertentu dari yang paling sederhana sampai yang kompleks sehingga tercapai tujuan secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, penelitian harus bersifat konsisten, prosesnya dilakukan dari satu tahap ke tahap berikutnya.
2) Terkontrol,
Artinya, penyusunan penelitian dilakukan dengan sengaja dan tentu sebelumnya sudah dipikirkan langkah-langkah pelaksanaannya yang mengacu pada tujuan penelitian yang diinginkan sehingga operasionalisasi penelitiannya mudah dikontrol.
3) Empiris,
Artinya, penelitian yang dilakukan harus bersifat empiris. Semua konsep yang tercakup dalam obyek penelitian harus terhubung secara operasional dalam dunia nyata.
4) Kritis,
Artinya, penelitian harus mengandung tolak ukur (kriteria) yang dapat diterima dalam setiap prosedur penelitiannya, baik secara eksplisit maupun implisit.

Banyak sekali tipe penelitian yang dapat dilakukan. Namun, dalam pembahasan kali ini, hanya akan dibahas tipe penelitian yang ditinjau dari aspek tujuan penelitian. Karena tujuan penelitian menjadi landasan utama dalam proses penelitian.
1. Expost Fact Research
Expost fact research merupakan suatu model penelitian yang mendasarkan diri pada fakta peristiwa yang telah terjadi sehingga data-datanya dapat dilacak kembali melalui kuesioner atau dokumen-dokumen yang relevan. Fakta-fakta tersebut akan dipertanyakan lagi sehingga sampai pada pertanyaan yang paling mendasar. Fakta dalam tipe penelitian ini, dapat dikaji lebih lanjut dengan pertanyaan apa, bagaimana, dan mengapa yang kemudian menjadi bagian-bagian dari tipe penelitian ini.
a. Penelitian Eksploratif
Tipe penelitian ini berhubungan dengan pertanyaan mendasar yang pertama yaitu apa. Pertanyaan ini digunakan untuk mengeksplorasi atau menyelidiki dan menggali lebih dalam fakta yang berhubungan dengan suatu peristiwa. Penyelidikan ini tidak dilakukan secara sistematis. Artinya, tidak didasarkan pada hipotesis yang kemudian ditarik menjadi suatu sampel. Namun, hanya untuk memperoleh informasi lengkap yang dapat menjadi fakta pendukung peristiwa tersebut. Informasi tersebut dapat diperoleh misalnya dengan bertanya man to man sampai mendapatkan jawaban yang relevan.
b. Penelitian Deskriptif
Tipe penelitian ini didasarkan pada pertanyaan mendasar yang kedua yaitu bagaimana. Tipe penelitian ini bertujuan untuk memperluas fakta yang ditemukan di lapangan, yang diperoleh dalam metode eksplorasi. Peneliti tidak hanya sebatas menggali fakta yang ada, namun dijabarkan lebih dalam kepada proses terjadinya peristiwa tersebut, yang dikaitkan dengan temuan fakta di lapangan yang lebih dieksplorasi. Dalam penelitian inilah kemudian dari fakta-fakta tersebut ditarik sebuah sampel.
c. Penelitian Eksplanatif
Tipe penelitian ini bertitik tolak pada pertanyaan mendasar yang ketiga yaitu mengapa. Dalam penelitian ini, peneliti mencoba mencari korelasi antara fakta dan proses terjadinya suatu peristiwa tertentu. Penelitian ini didasarkan pada hipotesis-hipotesis yang datanya dikumpulkan dengan metode sampling pada penelitian deskriptif.
2. Penelitian Eksperimen
Berbeda dengan expost fact research yang menyelidiki lebih lanjut fakta yang ada di lapangan, penelitian eksperimen justru merupakan suatu penelitian yang dapat memunculkan teori pengetahuan baru. Ia tidak mendasarkan diri pada data-data fakta yang telah ada, melainkan harus diciptakan terlebih dahulu. Tipe penelitian ini sangat berguna untuk mengembangkan inovasi-inovasi yang berguna dalam meningkatkan kualitas hidup manusia.

G. MANFAAT PENELITIAN

Kemampuan nalar dan bahasa komunikatif manusia menjadi faktor yang melatarbelakangi berkembangnya pengetahuan yang dihasilkan melalui sebuah penelitian. Fakta-fakta dan gejala-gejala yang nampak di lapangan akan senantiasa menjadi stimulus bagi manusia sebagai makhluk yang memiliki curiosity (keingintahuan) yang sangat tinggi. Dalam aspek teoritisnya, penelitian ilmiah dilakukan untuk mengembangkan teori dengan menemukan hukum atau keteraturan yang bekerja di dalam gejala-gejala itu sehingga mengembangkan atau bakan menemukan teori-teori baru. Dengan demikian, manfaat penelitian secara teoritis pun akan senantiasa mengembangkan berbagai pengetahuan manusia dengan temuan-temuan baru berdasarkan fakta-fakta dan gejala-gejala sosial yang berbeda-beda yang nampak di lingkungan sekitar.
Hakikat metodologi penelitian tidak terletak pada apa yang kita ketahui (atau pengetahuan), tetapi pada bagaimana kita mengetahui, walupun pengetahuan dan cara mengetahui adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Menurut Babbie menyatakan tentang bagaimana kita mengetahui sesuatu yang dianggap benar adalah: part of what you know could be called your aggrement reality: things you concide tobe real because you’ve been told they are real. Another part is what could be called experiential reality: the things you know as a fungtion of your direct experience. The first is a product of what people have told you, the second of your own experience. Ada dua cara untuk memperoleh pengetahuan, yaitu:
1. Melalui orang lain (agreement reality). Orang lain memberitahukan kepada kita, baik secara langsung maupun melalui media, dan apa yang diberitahukan itu kita terima sebagai sesuatu yang kita anggap benar, baik dari keluarga maupun di sekolah.
2. Pengalaman diri sendiri secara langsung (experiential reality). Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Pengetahuan dari pengalaman diperoleh dengan mempelajari pengalaman kita sendiri.
Menurut Babbie metodologi penelitian berhubungan dengan epistimologi, yaitu epistemology is the science of knowing, methodology (a subfield of epistemology) might be called the science of finding out. Epistemologi adalah ilmu mengetahui, sedangkan metodologi (bagian dari epistemologi) dapat dikatakan sebagai ilmu menemukan.
H. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas dapat kami simpulkan jawaban dari rumusan masalah bahwa: Kebenaran adalah suatu pernyataan tanpa keraguan. Pada hakekatnya kebenaran adalah sesuatu yang bersifat relatif. Jelaslah bahwa terdapat relasi yang sangat erat antara ilmu pengetahuan dan kebenaran. Kebenaran hanya dapat diperoleh dengan pengetahuan. Manusia sebagai dinamika selalu mengembangkan pengetahuannya untuk mencari kebenaran . Dan pencarian kebenaran ini tidak akan pernah terhenti karena sifat manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang sudah didapatnya.
Manusia mempergunakan 2 cara dalam mendapatkan pengetahuan yang benar, yaitu dengan berdasarkan rasio (rasionalisme) dan pengalaman (empirisme). Menurut paham rasionalisme pengetahuan didapatkan oleh manusia dari proses berpikir. Sedangkan menurut paham empirisme, pengetahuan manusia didapatkan melalui pengalaman yang konkret dengan mengamati gejala-gejala alam dan gejala-gejala sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori; tidak menekankan pada pengalaman. Misalnya pengetahuan tentang matematika. Dalam matematika, hasil 1 + 1 = 2 bukan didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan empiris, melainkan melalui sebuah pemikiran logis akal budi. Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman inderawi dikenal sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini bisa didapatkan dengan melakukan pengamatan dan observasi yang dilakukan secara empiris dan rasional.
Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang menjadi pengetahuan deskriptif bila seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut. Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulangkali.
Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi. Selain dari rasio dan pengalaman, pengetahuan yang benar dapat diperoleh dari intusi atau wahyu. Namun intuisi ini bersifat personal dan tidak bisa diramalkan, sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur.






DAFTAR PUSTAKA

Moh. Nazir, “Metode Penelitian”, Bogor: Ghalia Indonesia, 2003.
J.C. Almac, Research and Thesis Writing, Houghton Mifflin Co., Boston, 1930.
Sulistyo-Basuki, Metode Penelitian, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, April 2006.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar