Sabtu, 05 Januari 2013

makalah TIK dalam Pembelajaran PAI



PENGGUNAAN  MEDIA PEMBELAJARAN  BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MENINGKATKAN  PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PAI
Oleh: Aep Saepul Anwar


A.  Latar Belakang Masalah
Dalam menghadapi era globalisasi dan arus transformasi dewasa ini, pendidikan mengalami perkembnagan yang ditujukan dengan adanya penemuan-penemuan dalam bidang ilmu dan teknologi. Perkembangan tersebut tampak jelas dengan adanya pembaharuan system pendidikan dan pembelajaran yang menyentuh bukan hanya pada sarana fisik atau fasilitas pendidikan saja, tetapi juga pada sarana non fisik yaitu tenaga pendidikan yang memiliki pengetahuan, kemampuan, keterampilan dalam memanfaatkan fasilitas yang tersedia, cara kerja yang reaktif serta sikap yang positif terhadap tugas yang dilakukannya. Salah satu bagian integral dari upaya pembaharuan tersebut adalah berupa media berbasis teknologi informasi yang merupakan bagian dari media pembelajaran.
Di Indonesia, sejauh ini paradigma pembelajaran PAI di Sekolah maupun di Madrasah masih didominasi oleh paradigma pembelajaran konvensional, yakni paradigma mengajar. Siswa diposisikan sebagai objek, siswa dianggap tidak tahu apa-apa, siswa dianggap seperti gelas kosong yang harus diisi air sampai tumpah. Sementara guru memposisikan diri sebagai orang yang mempunyai pengetahuan, sebagai orang yang satu-satunya sumber ilmu. Guru ceramah, menggurui, dan otoritas tertinggi terletak pada guru.
1
 
Dengan perkembangan zaman yang terus menerus dalam menghadapi era globalisasi dewasa ini, pendidikan terus mengalami perkembangan yang ditujukan dengan adanya penemuan-penemuan dalam bidang ilmu dan teknologi. Perkembangan tersebut tampak jelas dengan adanya pembaharuan sistem pendidikan dan pembelajaran yang menyentuh bukan hanya pada sarana fisik atau fasilitas pendidikan saja, tetapi juga pada sarana non fisik yaitu tenaga pendidikan yang memiliki pengetahuan, kemampuan, keterampilan dalam memanfaatkan fasilitas yang tersedia, cara kerja yang kreatif serta sikap yang positif terhadap tugas-tugas yang dilakukannya. Salah satu bagian integral dari upaya pembaharuan tersebut adalah berupa media berbasis teknologi informasi yang merupakan bagian dari media pembelajaran berbasis teknologi informasi yang saat ini disenangi oleh siswa.
Fakta di lapangan memperlihatkan media telah menunjukkan keunggulannya membantu para guru dan staf pengajar dalam menyampaikan pesan pembelajaran serta lebih cepat dan lebih mudah ditangkap oleh para siswa. Media pembelajaran merupakan alat bantu pembelajaran yang memiliki kekuatan-kekuatan yang positif dan sinergis yang mampu merubah sikap dan tingkah laku mereka ke arah perubahan yang kreatif dan dinamis. Sehubungan dengan hal itu, peran media sangat dibutuhkan dalam pembelajaran dimana dalam perkembangannya saat ini media bukan lagi dipandang sekedar alat bantu tetapi merupakan bagian yang integral dalam sistem pendidikan dan pembelajaran.
Berdasarkan asumsi di atas, penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi informasi sebagai media yang efektif karena di rasa sangat penting pengaruhnya terhadap keberhasilan kegiatan belajar mengajar, keberhasilan tersebut akan terwujud apabila guru dapat menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan pesan pelajarannya, karena pada dasarnya media pembelajaran adalah sebagai alat penyalur pesan pelajaran pada setiap kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu, guru dan media pembelajaran hendaknya bahu membahu dalam memberi kemudahan bagi siswa pada kegiatan belajar mengajar, sehingga fungsi dari penggunaan media tersebut tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
Masalah pendidikan dan pengajaran merupakan masalah yang cukup kompleks dimana banyak faktor yang ikut mempengaruhinya. Salah satu faktor tersebut diantaranya adalah guru. Guru merupakan komponen pengajaran yang memegang peranan penting dan utama, karena keberhasilan proses belajar mengajar sangat ditentukan oleh faktor guru. Tugas guru adalah menyampaikan materi pelajaran kepada siswa melalui interaksi komunikasi dalam proses belajar mengajar atau kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Keberhasilan guru dalam menyampaikan materi sangat tergantung pada kelancaran interaksi komunikasi antara guru dengan siswanya. Ketidaklancaran komunikasi membawa akibat terhadap pesan yang diberikan guru[1].

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap berbagai dimensi kehidupan manusia, baik dalam ekonomi, sosial, budaya maupun pendidikan. Oleh karena itu agar pendidikan tidak tertinggal dari perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan teknologi) tersebut perlu adanya penyesuaian-penyesuaian, terutama sekali yang berkaitan dengan faktor-faktor pengajaran disekolah. Salah satu faktor tersebut adalah penggunaan media pembelajaran yang perlu dipelajari dan dikuasai guru atau calon guru, sehingga mereka dapat menyampaikan materi pelajaran kepada para siswa secara baik berdaya guna dan berhasil guna.

Bertitik tolak dari pendapat di atas, terlihat jelas bahwa salah satu hal yang harus diperhatikan adalah guru sebagai pengajar, sehingga dituntut untuk selalu belajar dan terus belajar, untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Disamping itu, guru harus memiliki keterampilan memilih dan menggunakan media dengan baik, termasuk juga terampil dalam menguasai teknik dan proses pembuatan suatu media yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran.
Ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung, siswa kurang memahami atau kurang jelas tentang bagaimana cara memperhatikan ilmu yang telah diajarkan. Melalui penjelasan guru yang disertai dengan penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran akan membantu siswa untuk lebih memahami pelajaran dan dapat mencegah terjadinya verbalisme, sehingga pengalaman belajar siswa lebih berkesan dan tahan lama. Pemanfaatan media ini sangat cocok untuk diimplementasikan di sekolah guna sebagai media pembelajaran.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan, diketahui bahwa dalam kegiatan belajar mengajar para guru dalam menggunakan media adalah sebagai salah satu alat bantu pengajaran. Dalam hal ini, tentu saja media yang digunakan adalah media yang relevan dengan materi yang disampaikan, dengan tujuan untuk menambah pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang disampaikan ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Namun dilihat dari kenyataan yang ada, tidak sedikit siswa yang masih kurang jelas dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan guru dalam penggunaan media pembelajaran, walaupun salah satu fungsi media adalah untuk membantu pengajaran agar siswa bisa lebih memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru sehingga siswa mendapat prestasi yang lebih baik.
Penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar harus benar-benar diperhatikan, karena media yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar hanya pada materi pelajaran tertentu yang dianggap penting. Dengan demikian, tujuan dari kegiatan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
B.       Pembahasan Tentang Penggunaan Media Berbasis TIK Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa
1.     Media Pembelajaran Berbasis TIK
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.[2]
Menurut Latuheru menyatakan bahwa media pembelajaran adalah bahan, alat atau teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdayaguna.[3]
Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah diberikan, maka media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran agar dapat merangsang pikiran, perasaan, minat dan perhatian siswa sehingga proses interaksi komunikasi edukasi antara guru (atau pembuat media) dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdayaguna.
Berdasarkan uraian beberapa batasan dan penjelasan diatas maka dapat dikemukakan ciri-ciri umum media adalah sebagai berikut :
  1. Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dikenal sebagai (perangkat keras) hadware yaitu suatu alat yang dapat dilihat, diraba, dan didengar dengan panca indera.
  2. Media pendidikan juga memiliki pengertian nonfisik yang dikenal dengan (perangkat lunak) sofware  yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada siswa.
  3. Penekanan media terdapat pada visual dan audio.
  4. Media pendidikan digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
  5. Media pendidikan dapat digunakan secara masal, misalkan radio dan televisi secara kelompok besar dan kelompok kecil misalkan film, slide, video, OHP atau perorangan misalkan modul, komputer, radio tape atau kaset, video recorder.
  6. Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manjemen yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.[4]

Dari batasan yang disampaikan oleh para ahli di atas mengenai media maka dapat disimpulkan bahwa pengertian media dalam pembelajaran adalah segala bentuk alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dari sumber kepada peserta didik yang bertujuan merangsang mereka untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
Media selain digunakan untuk mengantarkan pembelajaran secara utuh juga untuk menyampaikan bagian tertentu dari kegiatan pembelajaran, memberikan penguatan maupun motivasi.
2.    Fungsi Media Pembelajaran Berbasis TIK
a).  Media Sebagai Alat Bantu
            Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, karena memang gurulah yang menghendaki untuk membantu tugas guru dalam menyampaikan pesan-pesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada anak didiknya. Guru sadar tanpa adanya bantuan media, maka bahan pelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh setiap anak didik, terutama bahan pelajaran yang rumit atau kompleks. [5]
            Setiap materi pelajaran tentu memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada suatu sisi ada bahan pelajaran yang tidak memerlukan alat bantu, tetapi dilain pihak ada bahan pelajaran yang sangat memerlukan alat bantu berupa media pengajaran seperti globe, grafik, gambar, dan sebagainya. Bahan pelajaran dengan tingkat kesukaran yang tinggi tentu sukar diproses olah anak didik. Apalagi bagi anak didikyang kurang menyukai bahan pelajaran yang disampaikan itu.
            Anak didik cepat merasa bosan dan kelelahan tentu tidak dapat mereka hindari disebabkan penjelasan guru sukar dicerna dan dipahami. Guru yang bijaksana tentu sadar bahwa kebosanan dan kelelahan anak didik adalah berpangkal dari penjelasan yang diberikan guru bersimpang siur, tidak ada fokus. Hal ini tentu saja harus dicarikan untuk menjelaskan suatu bahan dengan baik, apa salahnya jika menghadirkan media sebagai alat bantu pengajaran guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya pelaksanaan pengajaran.
            Sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pengajaran. Hal ini dilandasi dengan keyakkinan bahwa proses belajar mengajar dengan bantuan media mempertinggi kegiatan belajar anak didik dengan bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik dari pada tanpa bantuan media.
b).  Media Sebagai Sumber Belajar
            Belajar mengajar adalah suatu proses yang mengolah sejumlah nilai untuk dikonsumsi oleh setiap anak didk. Niali-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi terambil dari bebagai sumber. Sumber belajar yang sesungguhnya banyak sekali tedapat di mana-mana; di sekolah, di halaman, di pusat kota, di pedesaan, dan sebagainya. [6]
            Sementara pandangan Sudirman (1987: 203) mengelompokan sumber-sumber belajar menjadi lima kategori, yaitu manusia, bahan, lingkungan, alat dan perlengkapan, aktivitas dan medi pembelajaran. [7]
1.      Manusia
Manusia sebagai sumber belajar yang dimaksudkan adalah orang yang secara lan gsung menyampaikan pesan-pesan pengajaran tanpa menggunakan alat lain sebagai perantara. Ada orang yang secara khusus dipersiapkan untuk sumber pengajaran melalui pendidikan dan latihan tertentu, seperti guru, konselor, administrator pendidikan, tutor dan sebagainya. Ada pula orang yang bukan dipersiapkan untuk sumber belajar, tetapi memiliki suatu keahlian yang mempunyai kaitan yang erat dengan program pengajaran misalnya: manajer perusahaan, penyuluh kesehatan, pen gelola KUD dan polisi.
2.      Bahan
Bahan yang disebut sebagai sumber pengajaran adalah suatu yang membawa pesan untuk tujuan pengajaran. Pesan pengajaran yang disampaikan kepada siswa tersebut dengan menggunakan alat penampil, seperti buku paket, peta, bola dunia dan grafik.
3.      Lingkungan
Lingkungan yang disebut sebagai sumber belajar  ialah tempat atau ruangan yang dapat mempengaruhi belajar siswa. Tempat dan ruangan yang dirancang khusus unuk tujuan pengajaran misalnya: bangunan sekolah ruang perpustakaan, ruangan laburatorium. Sedangkan tempat atau ruang yang bukan dirancang secara khusus untuk tujuan pengajaran namun dapat dimanfaatkan untuk sumber belajar mislanya gedung bersejarah, lingkungan pertanian dan kebun binatang.
4.      Alat dan Perlengkapan
Alat dan perlengkapan yang dijadikan sumber pengajaran ialah alat dan peralatan untuk produksi  atau untuk menampilkan sumber-sumber lainnya. Alat dan perlengkapan yang digunakan untuk produksi misalnya: tape recorder untuk merekam dan kamera untuk membuat foto. Sedanhgkan alat dan perlengkapan yang digunakan untuk menmapilkan belajar lainnya umpamanya proyektor film dan pesawat radio/TV.
5.      Aktivitas
Aktivitas sebagai sumber belajar biasanya merupakan kombinasi antara suatu tekhnik penyajian dengan sumber lainnya yang memberikan fasilitas atau kemudahan belajar bagi siswa.
3.    Jenis Media Pembelajaran Berbasis TIK
Media pembelajaran merupakan komponen instruksional yang meliputi pesan, orang, dan peralatan. Dalam perkembangannya media pembelajaran mengikuti perkembangan teknologi. Jenis media yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran cukup banyak ragamnya mulai dari media yang sederhana sampai pada media yang cukup rumit dan canggih. Teknologi yang paling tua yang dimanfaatkan dalam proses belajar adalah percetakan yang bekerja atas dasar prinsip mekanis.  Kemudian lahir teknologi audio visual yang menggabungkan penemuan mekanis dan elektronis untuk tujuan pembelajaran. Dan teknologi terakhir yang muncul adalah teknologi mikro prosesor yang melahirkan komputer dan kegiatan interaktif.
Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut, media pembalajaran dikelompokkkan kedalam empat kelompok yaitu :
1.      Teknologi cetak
adalah cara untuk menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan materi visual statis yang melalui proses pencetakan mekanis atau fotografis, teknologi ini memiliki beberapa ciri sebagai berikut :
  1. Teks dibaca secara linear, sedangkan visual diamati berdasarkan ruang.
  2. Teks maupun visual menampilkan komuniksai yang searah dan reseptif.
  3. Teks dan visual ditampilkan statis.
  4. Pengembangannya sangat tergantung pada prinsip-prinsip kebahasaan dan persepsi visual.
  5. Teks dan visual hanya berorientasi pada peserta didik.
  6. Informasi dapat ditata ulang atau diatur kembali oleh pemakai atau pendidik.
2        Teknologi audio-visual
yaitu cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronik untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual. Pembelajaran dengan menggunakan media audio-visual ini penyerapan materi ajar atau pesan-pesan pembelajarannya melalui pandangan dan pendengaran serta tidak seluruhnya tergantung pada kata atau simbol-simbol yang serupa. Ciri-ciri utama teknologi media audio-visual adalah sebagai berikut :
  1. Bersifat linear.
  2. Menyajikan visual yang dinamis.
  3. Merupakan representasi fisik dari gagasan real atau gagasan abstrak.
  4. Pengembangannya menurut prinsip psikologis, behavioris dan kognitif.
  5. Cara penggunaanya telah ditetapkan sebelumnya oleh perancang atau pembuatnya.
  6. Berorientasi kepada pendidik dengan tingkat pelibatan interaktif peserta didik relatif rendah.

3.      Teknologi berbasis komputer
merupakan cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan sumber-sumber yang berbasis mikro-prosesor. Perbedaannya antara media yang dihasilkan dari dua teknologi lainnya adalah informasi yang dihasilkan dalam bentuk digital, bukan dalam bentuk cetakan atau visual. Pada dasarnya teknologi berbasis komputer menyajikan informasi kepada peserta didik dengan menggunakan layar kaca. Ciri utama teknologi berbasis komputer adalah :
  1. Dapat digunakan secara acak,  non sekuensial atau secara linear.
  2. Dapat digunakan sesuai dengan keinginan siswa atau berdasarkan keinginan perancang  sebagaimana perencanaannya.
  3. Gagasan-gagasan yang disajikan dalam bentuk abstrak dengan kata, simbol dan grafik.
  4. Pengembangannya media ini pada prinsip-prinsip ilmu kognitif.
  5. Pembelajaran berorientasi pada peserta didik dan melibatkan interaktivitas peserta didik yang sangat tinggi.
4.      Teknologi gabungan
Adalah cara untuk menghasilkan atau menyampaikan materi yang menggabungkan beberapa bentuk media yang dikendalikan oleh komputer. Perpaduan beberapa jenis teknologi ini merupakan teknik yang paling canggih apabila disertai dengan komputer yang memiliki jumlah random acces memory yang besar, hard disk yang besar, dan monitor yang beresolusi tinggi ditambah dengan periperal atau alat-alat tambahan seperti videodisc player, perangkat keras untuk bergabung dalam sartu jaringan dan sistem audio. Beberapa ciri utama teknologi berbasis komputer adalah :
a.       Dapat digunakan secara acak, sekuensial dan secara linear.
b.      Dapat digunakan sesuai dengan keinginan peserta didik, bukan hanya dengan cara yang direncanakan dan dinginkan oleh perancangnya.
c.       Gagasan-gagasan yang disampaikan disajikan secara realistik dalam kontek pengalaman peserta didik yang relevan dengan lingkungan sekitar dan dibawah pengendalian peserta didik.
d.      Prinsip-prinsip ilmu kognitif dan konstruktivisme diterapkan dalam pengembangan dan penggunaan pelajaran.
e.       Pembelajaran berorientasi pada lingkup kognitif sehingga pengetahuan dikuasai jika pelajaran tersebut digunakan.
f.       Dalam proses pembelajaran banyak melibatkan interaktivitas peserta didik.
g.      Bahan-bahan ajar memadukan kata dan visual dari berbagai sumber.
4.        Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi  belajar terdiri dari dua kata yakni “prestasi” dan “belajar” mempunyai arti yang berbeda untuk memahaminya lebih jauh tentang pengertian prestasi belajar. Kata “prestasi” berasal dari bahasa Belanda yaitu "prestatie", dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti “hasil usaha.”  Sedangkan pengertian prestasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hasil yang telah dicapai di lakukan, dikerjakan dan sebagainya.
Sedangkan menurut Saiful Bahri Djamarah bahwa prestasi adalah apa yang telah diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.[8] Mas’ud Hasan Abdul Kohar berpendapat bahwa prestasi itu adalah apa yang telah didapat atau diciptakan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dari suatu kegiatan yang telah diperoleh dengan jalan keuletan kerja.
Sedangkan pengertian belajar secara psikologis menurut Slameto dalam bukunya “Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya” belajar adalah suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Muhibbinsyah juga menambahkan pengertian belajar dalam bukunya “psikologi belajar” mengemukakan bahwa belajar adalah tahapan perubahan tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.[9]
Jadi prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa selama berlangsungnya proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu, umumnya prestasi belajar dalam sekolah berbentuk pemberian nilai (angka) dari guru kepada siswa sebagai indikasi sejauh mana siswa telah menguasai materi pelajaran yang disampaikannya, biasanya prestasi belajar ini dinyatakan dengan angka, huruf, atau kalimat dan terdapat dalam periode tertetentu.
5.    Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Prestasi Belajar

Kegiatan belajar dilakukan oleh setiap siswa, karena melalui belajar mereka memperoleh pengalaman dari situasi yang dihadapinya. Dengan demikian belajar berhubungan dengan perubahan dalam diri individu sebagai hasil pengalamannya dilingkungan.
Secara global, faktor- faktor yang mempengaruhi  belajar siswa dapat kita bedakan menjadi beberapa bagian :
  1. Faktor Internal  (Faktor dari dalam siswa), yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa, meliputi dua aspek yakni :
  2. Aspek Fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang  atu tidak membekas.
3.      Aspek Psikologis
Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa. namun, diantara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih essensial itu adalah sebagai berikut:
4.      Tingkat kecerdasan atau intelegensi siswa
Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Jadi, intelegensi sebenarnya bukan persoalan otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ tubuh lainnya.
5.      Sikap siswa
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon   dengan cara yang relatif tetap terhadap obyek, orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif.
6.      Bakat siswa
Secara umum, bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang . Dengan demikian, sebetulnya setiap orang mempunyai bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing.
7.      Minat siswa
Secara sederhana minat "interest" berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi seseorang terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian  hasil belajar siswa dalam bidang – bidang studi tertentu
Adapun faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa), terdiri dari faktor lingkungan  dan faktor instrumental sebagai berikut :
C.      Penutup
Media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang fikiran, perasaan dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya. Pengaruh media secara kreatif akan memungkinkan audien untuk belajar lebih baik dan dapat meningkatkan performa mereka sesai dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Melalui Pengaruh media pembelajaran diharapkan dapat mempertinggi kualitas proses belajar mengajar yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas belajar siswa.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Guru sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat yang murah dan efisien yang meskipun sederhana dan bersahaja tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. Di samping mampu menggunakan alat-alat yang tersedia, guru juga dituntut untuk dapat mengembangkan keterampilan membuat media pembelajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia.
Jenis-jenis media pembelajaran berbasis Teknologi informasi antara lain; Media berbasis visual, Media berbasis audio visual, Media berbasis Computer dan Multimedia berbasis computer dan interactive video



DAFTAR PUSTAKA


Asnawir dan Basiruddin, (2002) Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat Pers.
Sadiman, (1986) Media Pendidikan: Pengertrian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya, Jakarta: PT. Raja Grafindo.

Latuheru, J.D, (1993) Media Pembelajaran Dalam Proses Pembelajaran Kini, Ujung Pandang: IKIP Ujung Pandang.

Arsyad,  Azhar  , (2002) Media Pembelajaran, Jakarta: Raja Grafindo.
Sudirman, (1991) Ilmu Pendidikan, Bandung: Remaja Rosda Karya.
Djamarah, Syaiful Bahri, (1994) Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, Surabaya : Usaha Nasional.





[1]  Asnawir dan Basiruddin, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 1.
[2]  Sadiman, Media Pendidikan: Pengertrian, Pengembangan, dan pemanfaatannya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1986). hal. 6
[3]  Latuheru, J.D. Media Pembelajaran Dalam Proses Pembelajaran Kini, (Ujung Pandang: IKIP Ujung Pandang, 1993). hal. 65.
[4]  Azhar  Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo:2002), hal. 12.
[5]  Syaeful Bahri Jamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), hal  137.
[6]  Ibid., hal. 139.
[7]  Sudirman, Ilmu Pendidikan  (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1991), Cet. Ke-5, hal. 203
[8]  Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Surabaya : Usaha Nasional, 1994), h. 19.
[9]  Ibid., hal. 2.  

2 komentar: